Bagaimana Menyikapi Dosa

clip_image002[4]

Ma`asyiral Mu`minin Rahimakumullah..Jama`ah shalat jum`ah yang dirahmati allah swt..

Apakah yang dilakukan oleh seseorang yang sedang duduk dan tiba-tiba ada lalat  hinggap di hidungnya ?Pasti orang tersebut dengan sangat sederhana mengibaskan tangannya untuk mengusir lalat yang hinggap di hidungnya, maka lalat itu pun  terbang,

Jama`ah sekalian… Apakah kiranya yang terfikirkan di benak orang tersebut ?. Tentunya itu merupakan hal yang sangat biasa, tidak terlalu membuat dirinya khawatir, tidak juga menganggap itu permasalahan besar, sesuatu yang biasa-biasa saja…

Jama`ah sekalian , demikianlah perumpamaan seorang pendosa dalam mensikapi dosa yang dilakukannya, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah saw;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

”Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosanya, seperti orang yang duduk di bawah sebuah gunung yang ia merasa takut jika gunung itu runtuh menimpanya. Sedangkan seorang pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu dengan menggerakkan tangannya sedikit saja, lalat itu akan terbang.” ( HR. Imam Bukhari)

Demikianlah, ada perbedaan yang sangat besar antara orang beriman dengan seorang pendosa dalam mensikapi kesalahan dan dosa yang terlanjur ia lakukan.  Seorang mukmin karena cahaya keimanan yang ada di dalam hatinya, ketika melihat dirinya melakukan perbuatan dosa, ia merasakan bahwa tindakan itu sebagai suatu tindak kesalahan yang sangat besar dan sesuatu yang mengancam dirinya, bisa membinasakan dirinya. Seperti seseorang yang duduk dibawah tebing gunung yang nyaris akan meruntuhi dirinya. Inilah sikap seorang mukmin, ia senantiasa takut kepada Allah swt dan merasa selalu diawasi oleh-Nya, ia menganggap amal kebaikannya kecil dan menganggap dosa kecilnya adalah kesalahan yang besar.

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah

Secara umum ada dua tipe kesalahan yang dilakuakan manusia; ada kesalahan yang hanya melangar hak Allah swt, seperti meninggalkan shalat, tidak berpuasa di bulan ramadhan bagi orang yang tidak ada `udzur apapun, tidak mau membayar zakat dll yang membutuhkan permohonan ampun dari Allah swt. Ada juga kesalahan yang melanggar hak Allah dan hak manusia, seperti mendhalimi orang lain, menipu, korupsi dll, yang tidah hanya membutuhkan permohonan ampun dari Allah saw namun juga memerlukan maaf dari orang yang dizhaliminya. Karena memang manusia berpeluang berbuat kesalahan maka perlu adanya sikap yang  mesti dibangun dalam diri setiap mukmin terkait dengan dosa yang mungkin dilakukannya;

Pertama; Segera Akui Kesalahan Itu

Salah satu bentuk keberanian seseorang adalah keberanian dirinya mengakui kesalahan yang dia lakukan. Sikap ini akan mengantarkan dirinya segera beristighfar meminta ampun kepada Allah swt dan kalau kesalahan itu ada kaitannya dengan orang lain maka ia akan meminta maaf kepada orang tersebut.  Keduanya –beristighfar kepada Allah swt dan meminta maaf kepada manusia- akan memutus rantai jebakan yang telah dipasang oleh syetan bagi seseorang yang telah jatuh pada satu jebakan syetan dengan melakukan perbuatan dosa. Karena satu dosa ketika dilakukan akan mengantarkan pelakunya pada melakukan kesalahan-kesalahan yang lain. Sebagaimana salah satu perkataan ulama salaf’

إن المعصية تدعو أختها

sesungguhnya kemaksiatan-yang dilakukan- itu akan mengundang saudara-saudaranya”

Kedua; Tidak  Mengkambing-Hitamkan orang lain

Salah satu sikap yang perlu dibangun ketika seseorang melakukan kesalahan adalah tidak mencari alasan untuk mengkambinghitamkan orang lain, ia tidak menyalahkan orang lain menjadi sebab kesalahan yang dia lakukan, namun ia mengakuinya dengan berani. Adalah satu pelajaran berharga dari manusia pertama Adam as yang melakukan kesalahan karena godaan iblis, sehingga dia dan istrinya melangar perintah Allah swt. Dalam pengakuanya  sama sekali ia tidak menyebut nama iblis, semuanya diakui adalah kesalahannya dalam munajatnya kepada Sang Pencipta Allah subhanahu wata`ala, sebagaimana terekam dalam firman-Nya yang kemudian menjadi do’a yang sering kita lantunkan ;

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“ Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-a`raf/7 : 23)

Ketiga; Tidak Berdalih Dengan Takdir

Sebagian orang salah memahami taqdir, sampai ketika mereka melakukan satu pelangaran, mereka mengatakan, ”Aku melakukan pelanggarang ini karena sudah ditakdirkan demikian dan aku tidak bisa mengelaknya”. Sehingga tidak pernah merasa bersalah bahkan kadang merasa dirinya paling taat dan beriman kepada Qadha’ dan Qadar Tuhan.   Sikap seperti ini bahkan akan mendorong para pemiliknya untuk terus mengulang dan melakukan kesalahan tanpa merasa butuh untuk mengakui kesalahan apalagi bertaubat. Ini adalah sikap para penyembah berhala sebagaimana disampaikan Allah swt dalam firma-Nya;

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آَبَاؤُنَا

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya ..”. (QS. Al-An`am/6 : 148)

Memang benar, segala hal tidak mungkin terjadi kecuali atas idzin dari Allah swt, namun tidak setiap yang diizinkan-Nya berarti diridhain-Nya. Bukankan Allah swt sendiri yang menyatakan

إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا  إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat. Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. Al-Insan : 2-3)

Keempat; Segera Bertaubat dan Tidak Mengulangi kesalahan

Perintah meraih ampunan Allah swt sering dibahasakan dengan bersegeralah,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu”.( QS. Ali Imran/3 : 133)

Ini memberi kesan agar kita tidak menunda taubat, sehingga Ibnul Qayyim menyatakan ”Menunda taubat itu dosa tersendiri yang membutuhkan taubat” artinya ketika seseorang itu berdosa maka ia mesti mertaubat, maka orang yang menunda taubatnya seakan mesti bertaubat dua kali; taubat karena kesalahan dosanya dan taubat karena kesalahan menunda taubatnya. Setelah bertaubat maka berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak terjerembab kedua kali dalam lubang kesalahan yang sama. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, ”Seorang mukmin tidak layak tersengat dalam satu lobang dua kali”. (HR. Bukhari Muslim)

Kelima; Menutup Lembar Dosa dengan Amal KebaikanManusia memang sangat mungkin berbuat salah, yang baik dari mereka adalah yang bertaubat dan kemudian menjaga dirinya agar tidak kembali melakukan kesalahan tersebut. Rasulullah saw menganjurkan kepada mereka yang berbuat kesalahan untuk menutup dan mengikutinya dengan amalan kebaikan, karena kebaikan itu bisa menghapus kesalahan

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan dimana kebaikan itu akan menghapus keburukan dan pergauilah manusia dengan akhlaq yang baik”. (HR. Turmudzi)

Inilah lima sikap penting yang mesti dibangun terkait dengan dosa dan kesalahan. Namum yang tidak boleh kita lupa adalah bahwa tidak ada istilah dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang, dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi besar karena pelakunya meremehkannya. Maka jangan pandang kecilnya dosa namun lihatlah kepada siapa engkau sedang berbuat maksiat. Dan yang paling menghawatirkan adalah bahwa mengulang-ulang kesalahan akan mengantarkan seseorang pada su’ul khatimah.

Demikian khutbah singkat kita kali ini, semoga kita di beri keistiqamahan dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Amienn.

Wallahu a`lam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: