KEKERASAN TERHADAP ANAK

KEKERASAN TERHDP ANAK

Perlindungan paripurna terhadap anak-anak meliputi berbagai aspek, bukan hanya dari sisi kekerasan fisik. Ideologi maupun cara pikir dan contoh perilaku
menyimpang sekarang ini juga menjadi ancaman bagi perkembangan moral anak-anak.
Keberadaan peraturan atau perundang-undangan perlindungan anak saja tak cukup mencegah kekerasan terhadap anak. Pada sebagian besar kasus, kondisi perekonomian keluarga dan lingkungan mempunyai andil besar penyebab tak langsung kekerasan terhadap anak. Karena itu, peningkatan kesejahteraan rakyat oleh pemerintah tak kalah penting dalam upaya penanggulangan kekerasan terhadap anak.
Contoh paling aktual yakni kasus penganiayaan terhadap bayi berusia lima bulan, Feri, kembali menghentak hati kita. Tekanan ekonomi membuat ibu korban gelap mata menganiaya anak kandungnya. Seperti diberitakan SP, Feri sampai saat ini masih tergolek di ruang perawatan RSUD Koja, Jakarta Utara, dalam kondisi mengenaskan. Tulang kaki dan tangannya patah di beberapa bagian. Kakak Feri, Icha (3 tahun), juga mengalami kekerasan yang sama sehingga Komnas Perlindungan Anak terpaksa mengambil langkah mengungsikannya untuk sementara waktu ke panti rehabilitasi.
Pada sebulan terakhir, sekurangnya ada lima kejadian kekerasan terhadap anak. Para pelaku penganiayaan adalah orangtua kandung. Ada yang ditelantarkan, dipukul, disiram air panas, bahkan disetrika. Mereka yang menjadi korban kebetulan adalah bocah berumur di bawah enam tahun, usia di mana ketergantungan terhadap orang dewasa masih begitu kuat.
Persoalan kekerasan terhadap anak bukan hanya kekerasan yang terjadi di rumah tangga. Masih ada seribu satu bentuk ancaman terhadap anak antara lain anak yang dipekerjakan, diperdagangkan, maupun korban eksploitasi seksual. Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebut, sekitar 4,2 juta anak berusia di bawah 18 tahun di Indonesia terlibat dalam pekerjaan berbahaya. Lebih dari 1,5 juta orang di antaranya anak perempuan. Data lain menyebutkan, sekitar 35 persen dari 2,6 juta pekerja rumah tangga di Indonesia tergolong anak-anak.
Anak-anak, yang dalam undang-undang adalah mereka yang berumur di bawah 18 tahun, relatif berada dalam posisi lemah ketimbang orang dewasa, baik dilihat dari segi mental maupun fisik. Faktanya, orang dewasa di sekitar anak-anak korban kekerasan itu, ternyata tak bisa menjadi tempat bergantung namun justru menjadi ancaman. Dalam kondisi seperti ini negara harus berperan serta.
Memang, bentuk perlindungan negara itu telah diterjemahkan antara lain melalui UU No 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak, Keputusan Presiden No 36/1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak.
Namun, aturan yang sudah ada itu idealnya disempurnakan dengan upaya mengubah budaya atau cara pandang dan berpikir masyarakat terhadap anak. Pada sebagian besar masyarakat kita, masih mengendap pandangan bahwa anak adalah harta kekayaan orangtua. Anak sepenuhnya milik orangtua.
Pola pikir ini sering menjadi pembenaran terhadap perilaku semena-mena orangtua terhadap anak, sehingga tak mengherankan orangtualah yang akhirnya menjadi pelaku utama dalam pelanggaran hak anak.
Karena itu, kesadaran kultural bangsa bahwa anak juga memiliki hak, harus terus disuarakan, bahkan di kota-kota besar yang mayoritas penduduknya berpendidikan tinggi sekalipun.
Anak bukan semata-mata dan mutlak milik orangtua. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak adalah titipan Tuhan kepada para orangtua untuk dicintai, dijaga, dan dibesarkan.
Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Karena itu, perlindungan paripurna terhadap anak-anak pun meliputi berbagai aspek, bukan hanya dari sisi kekerasan fisik. Ideologi maupun cara pikir dan contoh perilaku menyimpang sekarang ini juga menjadi ancaman bagi perkembangan moral anak-anak.
Kasus yang kebetulan muncul hampir bersamaan dengan sejumlah kasus kekerasan fisik terhadap anak adalah munculnya video porno yang diperankan oleh sosok-sosok mirip artis. Persoalan ini bukan semata persoalan orang dewasa karena dampak paling besar justru pada perkembangan anak. Selain karena materi video yang beredar luas itu adalah materi mesum, para pemerannya adalah sosok idola.
Di luar persoalan video porno mirip artis tersebut, kemajuan teknologi seperti sekarang ini membuat anak-anak terancam leluasa mengakses berbagai materi digital yang muatannya tak selalu positif untuk perkembangan mereka.
Tugas orangtua dalam konteks mengantar anak-anak menuju masa depan, makin berat. Namun justru akan semakin berat saat orang tua atau mereka yang dewasa tak mengerti hak-hak anak.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=19133

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: