Belajar Mengakui Kesalahan

berani mengakui kesalahan

Salah satu hal menyebalkan yang kita alami ketika bepergian naik angkutan umum adalah bertemu supir yang tidak disiplin. Berhenti di sembarang tempat, kebut-kebutan, dan kalau ngetem – menunggu penumpang – bisa bermenit-menit. Satu lagi yang menyebalkan adalah kalau mereka ngeles saat kita protes. Misalnya kalau kita menggerutu ngetemnya kelamaan, mereka akan ngeles, “Kalau mau cepat naik mobil sendiri aja.”

Kebiasaan ngeles, menghindari diri dari kesalahan, memang salah satu tabiat manusia, sebagai upaya pembelaan diri. Seperti kalau kita akan kena pukul, kita bisa menangkisnya atau menghindar. Begitupula saat kesalahan-kesalahan kita disebutkan, untuk menghindarinya kita akan melakukan taktik lama, lempar batu sembunyi tangan.

Lihatlah di koran-koran atau di televisi ada sejumlah politisi yang sangat mahir melepaskan diri kesalahan; dari tudingan korupsi, kedzaliman, dsb. Mungkin mereka pikir mereka adalah politisi yang ulung, bisa melepaskan diri dari berbagai kesulitan. Tapi orang banyak yang melihat sikap mereka sebenarnya muak dan menginginkan mereka segera turun dari jabatannya.

Begitupula saat kita melepaskan diri dari kesalahan, tidak mau bertanggung jawab, maka orang pun akan dongkol. Kemungkinan ia pun akan malas untuk terus hubungan dengan kita. Ketika kamu lupa mengembalikan buku pinjaman pada seorang teman lalu kita tidak merasa bersalah, besar kemungkinan temanmu akan mencap dirimu sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Atau ketika orang tuamu menegurmu karena tidak pernah merapikan bekas belajarmu, lalu kamu bilang, “Kenapa sih masalah kayak begitu aja dipersoalkan.” Itu tandanya kamu tidak akan pernah berubah.

Tidak mau mengakui kesalahan jelas merugikan dirimu sendiri. Hubunganmu dengan orang lain – kawan-kawan dan orang tua — akan merenggang. Kamu juga akan selalu sibuk mencari-cari alasan untuk membela diri, memposisikan kamu sebagai orang yang benar, setiap kali kamu melakukan kesalahan. Kamu juga akan mulai menuduh orang-orang yang menegurmu sebagai ‘pencari-cari kesalahan orang lain’. Kamu merasa dirimu benar, padahal orang lain sebenarnya muak melihat sikapmu.

Orang yang tidak mau mengaku salah, jelas bukan ciri-ciri orang beriman. Karena seorang mukmin setiap kali berbuat salah, akan meminta ampun, beristighfar kepada Allah sebagai tanda ia bersalah dan memohon maaf atas segala kesalahan yang ia lakukan. Sabda Nabi saw:

“Setiap anak Adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”(HR. Ibnu Majah).

Kalau sikap ini terus menerus kamu lakukan, maka kamu akan terbiasa berbuat salah dan menutup telinga dari nasihat orang lain. Karena hati kita seperti kertas putih, bila terus menerus terkena noda hitam – dan kita tidak mau membersihkannya – lama kelamaan seluruh kertas itu menjadi hitam. Bukannya menakut-nakuti, suatu saat hati kita akan benci pada kebenaran dan jauh dari hidayah Allah. Nau’dzubillahi min dzalik.

”Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya noda hitam. Seandainya ia bertaubat, meninggalkanya dan memohon ampunan maka akan hilanglah noda hitamnya. Apabila ia menambah (dosa) niscaya akan bertambah, sehingga akan menutup hatinya.”(HR. Turmudzi).

Juga Firman Allah:

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(Al Muthaffifin [83]:14).

Hal terbaik, dan satu-satunya yang benar, yang harus kita lakukan pada saat kita berbuat salah adalah mengakuinya. Hilangkan pikiran bahwa mengaku salah itu akan menjatuhkan kehormatan dan harga diri kita. Yang terjadi adalah sebaliknya, orang lain justru akan melihat kita sebagai orang yang jujur, bisa dipercaya, dan bertanggung jawab. Allah pun akan memuji kita seandainya kita mengaku salah, memohon ampunannya dan meninggalkan perbuatan salah itu.

Jadilah orang yang ikhlas menerima nasihat dari orang lain. Tanggapi setiap kritikan dan teguran dari orang lain dengan prasangka baik bahwa mereka ingin menolong kita, bukan mencari-cari kesalahan kita. Belajarlah untuk mengucapkan kata ‘maaf’. Itu jauh lebih baik daripada mencari-cari alasan pembenaran atas kesalahan kita.

Tinggalkan pula kata ‘tapi’ ketika kita mengaku salah dan meminta maaf. Tambahan kata ‘tapi’ menunjukkan hati yang belum ikhlas meminta maaf dan mengakui kesalahan. Banyak orang yang mengaku salah hanya saja mereka iringi dengan kalimat berawalan ‘tapi kan …’ yang selanjutnya adalah alasan agar orang lain memaklumi kesalahan kita, atau melemparkan kesalahan pada orang lain.

Bila apa yang terjadi adalah kesalahpahaman, orang lain menyangka kamu berbuat sesuatu yang salah, padahal kamu bermaksud lain, maka jelaskan dengan baik-baik keadaan sebenarnya. Ketika kamu datang terlambat karena jalanan macet, dan teman-teman yang menunggumu menyalahkan dirimu, mengapa tidak minta maaf terlebih dahulu sambil menjelaskan keadaan yang menimpamu. Bersikap ngotot apalagi balas menyalahkan orang lain hanya akan menjatuhkan kebaikan kita di hadapan orang lain. Tentu saja, permintaan maaf dan pengakuan salah itu harus kita barengi dengan niat kuat untuk tidak mengulangi kesalahan kita.

Bersikap rendah hati, tidak merasa diri sendiri yang paling benar, adalah sikap yang mulia. Pasanglah prinsip kebenaran itu hanyalah milik Allah, maka orang lain akan menghargai kita. Allah pun sangat cinta pada orang-orang yang rendah hati. FirmanNya :

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(Al Kahfi [18 :103-104).

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.“(An Najm [53] :32).

Sifat ikhlas dan rendah hati adalah sifat orang-orang yang mulia. Bahkan Nabi Muhammad saw. saja adalah orang yang memiliki sifat ikhlas dan rendah hati, walaupun beliau seorang nabi. Para sahabat dan ulama terdahulu juga mewarisi sifat terpuji ini. Suatu ketika seorang ulama terkenal di Basrah yang bernama Ubaidillah bin Al Hasan Al Ambary, tengah mengurus jenazah. Seseorang mendatanginya dan bertanya masalah agama. Beliau pun menjawabnya. Muridnya, Abdurrahman bin Mahdi, mendengar jawaban gurunya keliru, lalu ia meluruskannya, “Semoga Allah memperbaiki kesalahanmu. Jawaban pertanyaan itu seharusnya begini dan begini.“ Bagaimana sikap sang guru yang ditegur muridnya, apakah ia marah, tetap mengaku benar dan tidak mau kalah? Tidak. Dengan jujur ia berkata, “Kalau begitu aku akan mengikuti kebenaran dan aku sangat kecil dibandingkan kebenaran. Menjadi ekor sebuah kebenaran lebih kusukai daripada menjadi pemimpin dalam kebatilan.” Beliau pun meralat jawabannya. Inilah ciri seorang yang ikhlas dan rendah hati, tunduk pada kebenaran.

Hey remaja, kamu juga bisa bersikap seperti para nabi dan ulama. Salah satunya adalah menjadi orang yang jujur untuk mengakui kesalahan, tidak malu meminta maaf, dan tidak orang yang selalu mencari alasan. Tidak perlu menunggu sampai kamu tua untuk menjadi orang yang saleh dan bijaksana. Sekarang pun kamu bisa melakukannya.š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: