Memerangi Iri Hati

Perangi Iri Hati

 

Kalau dibiarkan, iri hati ini bisa menyeretmu ke dalam berbagai sikap-sikap negatif lainnya. Kita akan senang ketika orang yang kita cemburui itu gagal, atau celaka. Bukan tidak mungkin setiap saat kita berharap agar dia mendapat musibah. Atau kita akan mencari-cari kesalahan atau kekurangan yang dia lakukan. Pantas saja kalau Rasulullah saw. menyebut sifat hasud seperti api yang melalap kayu bakar. Sabdanya:

“Jagalah dirimu dari hasud, karena sesungguhnya hasud dapat menghapus semua kebaikan seperti api melalap kayu bakar,”(HR. Ad Dailami).

Padahal, belum tentu orang yang kita sering jadikan panutan itu merasa lebih baik daripada kita. Seorang artis berbadan bagus yang kamu jadikan sebagai model bentuk badanmu, bisa jadi sering depresi karena harus terus-terusan merawat tubuhnya. Britney Spears, yang sering dijadikan rujukan banyak gadis di Amrik dalam soal bentuk badan, pernah jatuh pingsan gara-gara menjalani diet ketat. Sebabnya ia ingin mempertahankan bentuk badannya itu. Begitupula kawanmu yang punya kulit yang mulus, barangkali juga lebih sering cemas. Khawatir kalau-kalau kulitnya lecet atau tumbuh jerawat di wajahnya.

Seorang kawan yang juara kelas yang mungkin membuat kita iri padanya, bisa jadi setiap saat merasa dalam ‘ancaman’. Ia harus berusaha mati-matian agar tidak ada orang lain yang mengalahkan nilai ulangannya. Dan kawanmu yang kaya, mungkin sering merasa cemas jangan-jangan orang-orang mau bergaul dengannya karena ingin morotin duitnya saja.

Jadi mengapa tidak nikmati saja keadaanmu sekarang ini? Bentuk fisik kita itu adalah karunia dari Allah. Bentuk terbaik yang Allah ciptakan untuk kita.

“Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”(At Tiin [95]:4).

Kalaupun kamu memiliki bentuk badan yang tidak sempurna, maka hakikatnya itu adalah ujian dari Allah untukmu. Seandainya kamu bersabar maka Allah akan menjanjikan balasan pahala yang luar biasa. Sabda Nabi saw.:

“Allah telah berfirman; ‘Apabila Aku menguji hambaku dengan keadaan buta kedua matanya, kemudian ia bersabar, Aku akan menggantikannya dengan surga,’.”(HR. Bukhari).

Lagipula, Allah tidak akan menghitung kebaikan seseorang dari bentuk fisik, melainkan dari ketakwaannya.

Lawanlah sikap iri hati saat ia mulai muncul. Karena ia bisa menyeret kita dalam sikap-sikap buruk lainnya. Persis arus kuat di sebuah sungai yang menghanyutkan apa saja yang jatuh ke dalamnya.

Yang bisa kita kerjakan untuk melawannya adalah banyak-banyak bersyukur atas apa yang Allah telah berikan pada kita. Kesehatan, orang tua yang mencintai kita, kawan-kawan yang selalu siap menolong kita, makanan yang masih bisa kita nikmati setiap hari, dan masih banyak lagi.

Banyaklah memperhatikan orang lain yang tidak ‘seberuntung kita’, karena itu akan membuat kita banyak bersyukur dan berpuas diri. Kalau kamu merasa bahwa kamu ‘orang yang paling tidak beruntung sedunia’, maka kamu salah. Lihatlah sekelilingmu, banyak orang yang merasa kamu adalah remaja yang beruntung, jauh lebih beruntung dari mereka. Bisa jadi, yang mengatakan itu adalah orang-orang yang sebenarnya kamu cemburui. Di dunia ini masih banyak orang-orang yang belum sebaik kita. Uang lima ribu rupiah buat sebagian orang mungkin biasa, malah nyaris tidak berarti – itu sama dengan ongkos naik angkot lima kali di kota saya –. Tapi tahukah kamu, di luar sana banyak orang yang harus bersusah payah, bercucuran keringat untuk mendapatkan uang lima ribu rupiah. Banyak keluarga di tanah air yang makan sehari dalam sekali, bahkan ada juga yang bertanya-tanya; apakah kita dapat makan hari ini?

Saya teringat dengan pengalaman menarik sejumlah kawan yang membina remaja yang ‘beruntung’ keadaan ekonominya. Suatu ketika, kawan-kawan saya melatih mereka untuk membuat survey ekonomi masyarakat di sekitar sekolah. Anak-anak yang berasal dari keluarga mampu ini terkaget-kaget dengan hasil survey mereka. Mereka baru tahu ada seorang bapak yang penghasilan sebulannya hanya setara dengan satu voucher isi pulang kartu ponsel mereka. Padahal di antara mereka ada yang bisa menghabiskan lebih dari satu voucher isi ulang dalam sebulan. Mereka jadi lebih terbuka kalau mereka lebih beruntung dari orang lain.

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat orang yang di atasmu, karena demikian itu lebih tepat, agar kamu tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepadamu.”(HR. Bukhari, Muslim).

Terakhir, belajarlah untuk ikut merasakan senang ketika kawan kita mendapatkan kebaikan. Dan, ketika kawan kita mendapatkan musibah maka belajarlah untuk turut merasakannya. Jangan biarkan iri hati membakar diri kita dan menghanguskan amal perbuatan kita.š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: