JALAN PINTAS

 

jalan pintas

Kalau orang ingin pergi ke suatu tempat, dan ingin sampai lebih cepat ke sana, atau ingin mendahului orang lain, maka biasanya mereka melakukan ‘potong kompas’ atau mencari ‘jalan pintas’. Biasanya, jalur yang diambil itu tidak lazim, jalannya seringkali jelek, tapi memang lebih cepat.

Mengambil ‘jalan pintas’ seringkali dilakukan orang dalam kehidupan. Banyak orang yang senang mengambil ‘jalan pintas’, memakai jalur yang tidak lazim, bahkan jelas haram, untuk meraih kesuksesan mereka. Tapi mereka tidak peduli, karena ‘jalur ilegal’ atau ‘tidak sah’ ini sepertinya menjanjikan kesuksesan dalam waktu singkat. Sengaja saya ketik miring karena kenyataannya tidak demikian.

Istilah lain yang lebih tepat untuk menyebut ‘jalan pintas’ adalah ‘menghalalkan segala cara’. Sebabnya sangat jelas. Orang-orang yang mengambil jalan pintas tidak lagi memandang apakah perbuatan yang mereka lakukan itu halal atau haram. Kalaupun haram maka mereka anggap itu adalah halal.

Untuk para pelajar yang ingin ulangannya bagus, tanpa perlu belajar keras, maka mencontek, atau mencari bocoran soal adalah jalan pintas buat mereka. Makanya tiap tahun ada saja ribut-ribut mengenai soal ujian nasioanal yang bocor, peserta UMPTN yang memakai jockey, malah ada cerita kawan saya tentang pelajar yang percaya pada klenik untuk menjawab soal ujian.

Prinsip jalan pintas sudah merebak dimana-mana. Di dunia kerja prinsip ini juga ada. Mereka yang ingin diterima bekerja di satu tempat seringkali diminta membayar sejumlah uang sebagai jaminan diterima. Tidak sedikit yang remaja yang mau melakukan ‘apa saja’ asalkan bisa cepat tenar, entah jadi fotomodel, bintang iklan atau pemain sinetron, dsb. Yang dimaksud dengan ‘apa saja’ itu adalah perbuatan yang negatif alias haram. Maka tidak sedikit remaja putri yang mau difoto tidak senonoh, atau main film ‘panas’ dengan dalih ‘tuntutan skenario’. Pelakunya berpikir itu adalah sebuah keharusan untuk meraih kesuksesan. Padahal mereka sedang mengambil ‘jalan pintas’. Tidak peduli apakah perbuatan mereka itu memalukan dan dicela banyak orang.

Lalu bahagiakah mereka ketika mendapatkan kesuksesan lewat jalan pintas? Sama sekali tidak. Pelajar yang meraih nilai seratus waktu ulangan dari jalan mencontek, tidak akan pernah lupa dengan cara memalukan yang ia lakukan. Ia juga takut kalau-kalau orang lain tahu apa yang ia kerjakan. Ia akan malu dan marah kalau suatu hari di jalan orang-orang berkata padanya, “Pencontek!”.

Para penggemar ‘potong kompas’ sebenarnya adalah para pecundang. Mereka sedang menggerogoti kepercayaan diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang takut gagal dan takut menghadapi kenyataan. Pelajar mencontek karena takut tidak lulus, para atlit memakai doping dalam pertandingan karena mereka takut kalah, dsb. Akhirnya mereka akan menjadi orang yang selalu tidak pede dan lebih mengandalkan orang lain.

Maka, bersabarlah ketika kamu sedang mengerjakan sesuatu. Tembok Raksasa di Cina tidak dibangun dalam waktu setahun. “Roma tidak dibangun dalam semalam,” kata Julius Cesar, kaisar Romawi. Seorang Ronaldo tidak menjadi pesepakbola yang hebat dari berlatih setahun. Para pemenang sejati adalah mereka yang tidak mengenal jalan pintas. Keberhasilan mereka dibangun di atas cucuran keringat mereka.

Jangan iri pada keberhasilan orang lain – yang mungkin mereka dapat dalam waktu singkat –, tapi jadikan ibrah, contoh, bagi usaha kita. Lagipula, setiap orang akan menemukan kebahagiaannya masing-masing. Berpuas diri adalah kekayaan dan harta yang tiada habisnya. Orang tua saya sering bilang, “Nasi yang kita makan dari hasil kerja sendiri, lebih nikmat daripada pemberian orang lain.” Inilah berpuas diri dan bersyukur. Syukurilah nilai enam atau tujuh hasil ulanganmu. Karena berarti kamu dapat mengetahui sejauh mana kerasnya usahamu dan kemampuan dirimu. Bukan untuk membuat kita jadi rendah diri lalu frustrasi, tapi cerminan diri. Sehingga kita berkata pada diri kita sendiri; Oh, seperti itulah saya, berarti saya tidak boleh bermalas-malasan, saya harus belajar dan berusaha lebih keras lagi.

Buat mereka yang senang dengan jalur ‘potong kompas’, kita katakan jangan bangga dengan keberhasilan kalian, karena kalian sebenarnya adalah para pecundang. Yakni orang-orang yang takut menghadapi kenyataan dan kegagalan.š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: