LIHATLAH ISI PEMBICARA JANGAN LIHAT SIAPA YANG BERBICARA

BERBICARA

Salah satu perbuatan yang dibenci Allah adalah membeda-bedakan orang. Ini seringkali terjadi di tengah-tengah kita. Bukan cuma kamu yang masih remaja yang bisa begitu, yang tua pun bisa demikian. Seperti dalam sebuah ceramah atau obrolan, kalau yang berbicara di hadapan kita adalah orang terkenal, katakanlah public figure seperti selebritis, orang biasanya mau mendengarkan, hormat dan memberi perhatian lebih. But, kalau yang berbicara di depan adalah orang-orang yang ‘biasa’ atau tidak dikenal apalagi penampilannya jauh dari ‘meyakinkan’, yang muncul lebih sering sikap sebaliknya. Kita kurang respek, kurang perhatian, dan cenderung meremehkan. Nggak nyadar kita bilang dalam hati ‘Siapa seh kamu?’. Kalau kamu orang beken baru deh saya akan dengarkan omongan kamu, tapi kalau bukan maaf aja, saya nggak ada waktu dengerin omongan kamu.

Ketika masih bersekolah, ada guru yang hampir-hampir sepanjang jam pelajaran kita cuekkin, karena penampilannya yang nggak ‘meyakinkan’. Cara ngomongnya dan juga mata pelajarannya yang menurut kita kalah penting dibandingkan kimia, fisika atau matematika. Atau waktu kita bikin peringatan keagamaan di sekolah – saya lupa antara Maulud Nabi atau Isra Mi’raj –, ada penceramah yang menurut kita sih nggak terkenal. Sudah begitu gaya bicaranya jauh dari menarik. Monoton, lempeng-lempeng aja, sama sekali nggak ada ‘ledakannya’. Pas, acara selesai seorang kawan memberi komentar, “Lain kali kalo manggil penceramah yang bisa ngelucu dong!”.

Bukan sekali dua kali saat saya melihat sejumlah remaja yang ‘sibuk’ dengan kegiatan mereka sendiri. Entah ngobrol dengan kawannya, membaca komik, mendengarkan musik dari walkman, atau malah tidur-tiduran, padahal di depannya ada seorang ustadz yang sedang berceramah. Perasaan yang muncul dalam benak saya lebih banyak kasihan ketimbang sebal, karena berarti mereka mungkin kehilangan kesempatan mendapatkan sesuatu yang positif dari yang ceramah yang disampaikan, yang bisa amat bermanfaat bagi mereka.

Maka agama kita sejak awal kemunculannya sudah melarang sikap meremehkan atau memandang rendah orang lain. Nabi kita, Muhammad saw., adalah orang yang hangat bagi siapa saja. Tidak peduli tua-muda, pria-wanita, miskin-kaya, beliau terima dengan perlakuan yang sama; penuh rasa hormat dan kasih sayang. Bahkan orang Arab Badui yang berbicara dengan kasar pada beliau pun tetap disambut dengan baik. Beliau juga dikenal oleh para sahabat sebagai orang yang mendahului mengucapkan salam, seolah ingin mengalahkan para sahabat dalam hal mendapatkan pahala. Bahkan pada anak-anak pun beliau mendahului memberi salam. Sabda Nabi saw.:

“Seutama-utamanya manusia bagi Allah adalah yang mendahului memberi salam,”(HR. Abu Daud)

Beliau juga sangat perhatian pada orang-orang yang miskin. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa ada seorang wanita berkulit hitam yang suka menyapu mesjid. Suatu ketika ia tidak pernah terlihat lagi selama beberapa hari oleh Rasulullah saw. Beliau bertanya pada para sahabat mengenai wanita itu. Para sahabat menjawab bahwa ia telah meninggal. Rasulullah terkejut dan berkata, “Mengapa kalian tidak memberitahu kepadaku.Tunjukkah padaku kuburannya.” Maka orang-orang menunjukkan kuburannya dan di sana Nabi saw. melakukan shalat jenazah.

Seorang sahabat Nabi saw., Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. pernah merasa dirinya lebih utama dibandingkan orang-orang yang berada di bawahnya. Rasulullah saw. menegurnya. Kata beliau;

“Tidaklah dirimu mendapatkan kemenangan dan rizki melainkan atas pertolongan orang-orang lemah di antaramu,”(HR.. Bukhari, Muslim).

Sobat remaja, sikap SSK ini sebenarnya merugikan diri sendiri. Akibat sikap SSK, hati dan pikiran kita jadi sempit. Kita menutup diri dari pikiran positif orang lain yang bisa jadi sangat bermanfaat untuk kemajuan diri, prestasi belajar dan agama hanya karena soal pakaian atau status. Padahal kemuliaan dan kebaikan seseorang itu ada yang tidak tampak dari permukaan. Sebaliknya, penampilan seringkali memukau padahal akibat dibalut dengan tipuan. Pak Sudin yang tukang kebun itu mungkin ibadahnya lebih baik dari Pak Charles yang pengusaha, Tono teman kita yang seragam sekolahnya sudah lusuh itu bisa jadi lebih pandai dari kita semua. Kebaikan dan kemuliaan orang sama sekali nggak berhubungan dengan penampilan. Siapa yang tahu kalau kerennya penampilan seseorang adalah cara untuk menutupi kebiasaan buruknya. Kata sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., ”Lihatlah isi pembicaraan, jangan lihat siapa yang berbicara.”

Bicara soal penampilan, maka Rasulullah saw. adalah orang yang tidak pernah membedakan diri dengan para sahabat, meskipun beliau adalah seorang nabi dan kepala negara. Pakaiannya sederhana, tidur pun beralaskan pelepah kurma dengan sehelai kain yang separuh menjadi sprei dan separuhnya lagi sebagai selimut. Tapi tetap saja beliau dihormati para sahabat dan disegani musuh-musuhnya. Kata Rasulullah saw. :

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi ia melihat kepada hati dan perbuatan kalian.”(HR. Muslim)

Yang juga harus disadari, sikap meremehkan teman bicara kita, adalah bagian dari kesombongan. Jangan pernah menyangka kalau sombong itu cuma pamer harta, mobil, dsb. Merendahkan orang lain juga bagian dari kesombongan. Jelas kamu tahu, kalau Allah sangat benci pada kesombongan. Kata Rasulullah saw.: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebesar atom.” Beliau juga menjelaskan,:“Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”(HR. Muslim)

Jadi, amat positif bagi kita jika mulai sekarang menjadi orang yang punya prinsip egaliter, tidak membeda-bedakan orang hanya dari penampilan dan status sosialnya. Tukang becak, petani, pelajar, pejabat dan pengusaha, yang membedakannya adalah ketakwaannya pada Allah. Dengan menjadi orang yang seperti demikian, insya Allah, kita akan menjadi orang yang terbuka untuk menerima nasihat-nasihat yang baik dari siapapun. Karena kita tidak pernah tahu kebaikan itu akan datang dari mulut siapa. Suer, nggak rugi lho!š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: