APA YANG KITA PIKIR DAN KITA LIHAT MENYENANGKAN DI DUNIA, BELUM TENTU KENYATAANNYA DEMIKIAN

dunia

Banyak yang berpikir kalau kekayaan dan ketenaran adalah menyenangkan. Oppie Andaresta dulu menyanyikan lagu Cuma Khayalan, yang isinya lamunan dia kalau jadi orang kaya. Bisa beli rumah mewah, mobil yang banyak, malah bisa beli pulau.

Sepertinya banyak remaja juga berpikiran begitu. Ingin punya ponsel tipe terbaru yang fiturnya makin canggih, komputer dengan prosesor tercepat, sepatu dan baju model baru keluaran desainer terkenal, kalau bisa mobil Ferrari Spyder yang sebijinya 16 miliar rupiah. Dan tentu saja, ingin punya uang yang banyak untuk segala keinginan kita.

Kalau kamu penggemar acara MTV Cribs, mungkin sekali untuk ngiler melihat berbagai kekayaan para selebritis. Ada pemain basket yang rumahnya berisi 19 kamar tidur yang mewah, ada seleb lain yang hobi mengoleksi mobil-mobil mewah, batu permata, ada yang punya bioskop pribadi, dan kolam renang yang lux. Akhirnya kita mulai berpikir ‘kalau saya kaya saya pasti bahagia’.

Kenyataannya nggak begitu. Kalau kamu jeli kamu bakal melihat banyak orang kaya yang hidupnya kacau. Sebagian dari mereka menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang ‘remeh’, tidak berarti. Pergi ke luar negeri hanya untuk membeli tas, baju, makan di restoran, itu semua bukanlah perbuatan yang keren. Ada orang kaya yang hobi membawa hewan piaraannya ke salon dan menghabiskan banyak uang di sana untuk mempercantik ‘teman main’ mereka. Atau menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk melihat nyala kembang api di luar negeri. Kamu tahu kenapa mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang ‘aneh’? Karena mereka berpikir itu menyenangkan dan membahagiakan mereka. Pahamilah hukum apa yang kita pikir dan kita lihat menyenangkan di dunia, belum tentu kenyataanya demikian. Benarlah sayyidina Ali bin Thalib ra. yang pernah berkata, “Andaikan aku harus memilih antara ilmu dan harta, aku akan memilih ilmu. Harta harus dijaga sementara ilmu menjagaku. Harta dibagikan berkurang, sedangkan ilmu bila dibagikan akan bertambah.”

Salah satu penyakit orang yang berharta adalah takut kehilangan hartanya. Kalau kita punya sepatu baru yang keren, hampir bisa dipastikan kita takut sepatu itu rusak apalagi hilang. Begitupula mereka yang banyak uangnya lebih sering khawatir daripada yang punya sedikit uang; takut dirampok, takut dicopet, takut usahanya bangkrut, dsb. Tidak sedikit juga orang kaya menjadi bakhil, pelit, karena takut berkurang hartanya.

Kekayaan juga bisa membuat kita tidak pernah merasa puas. Kini, kita hidup di dunia yang penuh dengan iklan. Barang yang biasa saja – bahkan tidak penting – bisa kelihatan ‘wah’ dan menjadi penting berkat jasa biro iklan. Akhirnya, kita seringkali membeli barang karena bujukan iklan, karena ingin sesuatu yang baru, sesuatu yang keliatannya ‘wah’. Dan kita pun menjadi orang yang tidak pernah puas.

Saat kita tidak punya baju yang bagus, kita merasa perlu membeli baju itu. Tapi ketika kita sudah membeli baju itu, eh besoknya keluar lagi model terbaru dari baju itu. Rasa menyesal dan tidak puas bisa muncul waktu itu. Harta kekayaan yang bisa berupa uang, baju bagus, ponsel, sepatu, mobil, jam tangan bisa membuat kita menjadi orang yang tidak pernah merasa puas dan tidak pandai bersyukur nikmat. Sabda Nabi saw.:

“Kalaulah anak Adam memiliki satu bukit emas, ia akan bernafsu untuk memiliki dua bukit. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah.”(HR. Muslim).

Lagipula, banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dan dipuaskan dengan harta. “Money can’t buy me love,” kata The Beatles, grup pop legendaris dari Liverpool, Inggris dalam lagunya Can’t Buy Me Love. Persahabatan, kasih sayang, ketenangan, pahala dan dosa, surga dan neraka tidak bisa ditukar dengan uang. Firman Allah:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al Anfal [8]:63).

Ketimbang menumbuhkan cinta, kekayaan lebih sering membuat orang saling bermusuhan. Dua sahabat bisa tercerai berai gara-gara harta. Ikatan keluarga pun bisa berantakan akibat perebutan harta. Rasulullah saw. mengingatkan kita bahwa harta dapat mengubah manusia menjadi lebih kejam akibat berebut harta. Berapa kali kita baca di koran, kita simak berita di radio dan televisi orang tega membunuh orang lain karena harta. Di antaranya memperebutkan uang yang tidak seberapa, lima ribu atau sepuluh ribu rupiah, malah ada hanya gara-gara uang seribu rupiah. Benarlah sabda Nabi saw.:

“Tidaklah pengrusakan dua serigala yang lapar yang dilepas dalam rombongan kambing melebihi dari pengrusakan yang diakibatkan sifat tamak rakus kepada harta dan kedudukan terhadap agama seseorang.”(HR. Tirmidzi).

Harta yang berlimpah juga bisa membuat orang jadi sombong, memandang rendah pada orang lain. Di dalam Al Qur’an Allah mengabadikan Qarun, seorang kaya di jaman Nabi Musa a.s. yang sombong lantas mendapat azab dari Allah SWT. FirmanNya:

“Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”(Al Qashshash [28]:78-81).

Kebahagiaan nggak datang dari harta yang banyak, tapi dari keridloan Allah SWT. Di antaranya adalah kalau kita memiliki orang-orang yang mencintai kita dan menyayangi kita, baik itu keluarga atau teman-teman. Kalau kamu punya orang-orang yang baik dan selalu siap menjaga kita dari kesalahan, juga selalu mendorong kita agar selalu beramal sholeh, maka kamu sudah menjadi remaja bahagia. Begitupula kalau kamu selalu melihat dunia ini dengan optimisme dan penuh semangat untuk melakukan kegiatan positif dan berpahala, kamu sudah menjadi bagian dari remaja yang berbahagia. Dan kalau kamu bisa melepaskan diri berbagai sifat-sifat tercela seperti iri hati, tidak pernah puas, benci dan dendam, kamu juga adalah remaja berbahagia.

Orang yang kaya juga bukanlah orang yang banyak harta, tapi orang yang selalu merasa cukup dan puas serta bersyukur dengan apa yang ia miliki hari ini. Ia juga tidak takut akan nasib esok hari. Bukankah Allah menurunkan rizki setiap saat?

Terakhir, jangan lupa kalau harta yang kita punya — sedikit apalagi banyak – akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Baju yang kita punya, sepatu yang kita pakai, dan uang yang kita jajankan, akan ditanya oleh Allah darimana berasal dan dipergunakan untuk apa. Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin lama dan berat buat kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Pantaslah kalau Nabi saw dan para sahabat sering berdoa agar diwafatkan sebagai orang miskin dan dihisab bersama-sama orang miskin.š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: