FIKIRAN POSITIF

positif fikir

 

“Menakjubkan urusan orang beriman,” kata Rasulullah saw. Mengapa? “Semua hal yang menimpanya baik bagi mereka.” Apa benar semua hal bagi setiap muslim itu baik? Bagaimana kalau suatu ketika motor yang kita pinjam dari teman menabrak mobil, lalu kita juga kena tilang karena lupa membawa SIM, belum lagi harus bertanggung jawab pada si pemilik motor? Atau, ketika kita sedang dikejar waktu untuk mengumpulkan tugas, tahu-tahu file tugas yang kita simpan di komputer kena virus dan kita tidak punya cadangannya? Masih adakah orang yang bisa mengatakan urusan kita ‘menakjubkan’?

Sobat remaja, jangan pernah berpikir kalau setiap hari langit itu cerah, udara selalu sejuk, dan semua orang ramah. Suatu saat langit bisa menjadi mendung dan Allah menurunkan hujan yang deras, atau di hari lain udara menjadi sangat panas dan kita pun menjadi kelelahan.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, bahkan jam atau menit berikutnya. Apakah kita akan beruntung ataukah mendapat musibah. Tidak ada orang yang beruntung terus menerus, sama juga tidak ada orang yang ‘sial’ (maaf saya pakai kata ini) terus-terusan.

Ronaldo, pesepakbola yang dijuluki the phenomenon. Mungkin bisa menjadi contoh. Meski pernah menjadi pemain yang berbakat di Eindhoven, Barcelona dan Intermilan, ia juga pernah mengalami keadaan yang amat buruk untuk seorang pemain sepakbola. Pada final Piala Dunia 1998 di Prancis, ia mendadak sakit. Meski ia kemudian bermain tapi tim Brasil kalah telak 3-0 di tangan tuan rumah Prancis. Ronaldo juga dituding menjadi salah satu sebab kegagalan tim samba menjuarai Piala Dunia waktu itu. Seperti belum cukup, musibah lain menimpanya. Di liga Italia tempatnya berlaga, ia mengalami cedera kaki yang parah dan mengharuskannya beristirahat lama. Karirnya seperti akan tamat. Namanya pun nyaris dilupakan orang digantikan nama-nama pemain bintang yang lain. Namun Ronaldo pantang menyerah, selain menjalani sejumlah operasi untuk menyembuhkan cidera di kakinya, ia juga terus berlatih. Usahanya tidak sia-sia. Ketika sembuh ia kembali dipanggil negaranya untuk kembali memperkuat skuad tim samba menghadapi putaran final Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korsel. Dua golnya ke gawang Jerman di babak final mengantarkan tim Samba menjadi juara dunia untuk yang keenam kalinya. Ronaldo pun mendapat sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak. Terakhir, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia tahun 2002 versi FIFA dan bermain untuk klub raksasa dari Spanyol Real Madrid. Jadi, tidak ada orang yang mengalami nasib buruk setiap hari.

Apa yang dialami Ronaldo jelas belum seberapa dibandingkan dengan apa yang menimpa Nabi Ayub a.s. Allah menimpakan berbagai macam musibah yang luar biasa pada beliau. Kekayaannya yang melimpah ludes dan anak-anaknya wafat. Beliau sendiri ditimpa berbagai penyakit. Tapi Nabi Ayyub tetap sabar karena meyakini semua yang menimpanya adalah ujian buat keimanannya. Tidak sedikitpun musibah itu membuat hilang kesabarannya dan goyah imannya.

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”(Al Anbiya [21]:83-84).

Dalam hidup, akan selalu ada ujian bagi kita. Tidak ada orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT. melainkan akan selalu mendapatkan ujian dariNya. Karena Allah ingin tahu apakah kita bersungguh-sungguh dengan keimanan kita, ataukah tidak. Lihatlah emas, semula ia berasal dari bijih mineral yang kotor. Untuk mendapatkan emas yang murni, maka bijih itu dibakar dengan suhu yang panas untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat padanya. Seorang karateka atau ahli bela diri yang ingin naik tingkat harus mengikuti ujian yang menyakitkan; mematahkan balok es dengan tangan kosong, dihantam tubuhnya dengan tongkat kayu, malah ada yang harus berendam di air yang dingin. Begitupula diri kita, agar mendapatkan jiwa yang bersih, dan keimanan yang kokoh, Allah akan selalu menguji keimanan kita. FirmanNya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”(Al Ankabut [29]:2).

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”(Al Baqarah [2]:155).

Bagi seorang muslim, ujian hidup itu punya dua dampak yang sama-sama baik; pertama menghapuskan dosa, kedua menaikkan derajat kita di hadapan Allah SWT. Ya, kalau kita bersabar menghadapi semua masalah yang menimpa kita Allah menjanjikan dua kebaikan itu. Sabda Nabi saw.:

“Tidaklah seorang muslim yang menderita kelelahan, penyakit, kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan menjadi penebus dosanya.”(HR. Bukhari, Muslim).

Allah juga Zat yang Mahaadil. Dia nggak akan memberikan suatu perkara yang kita nggak mampu menghadapinya. Semua masalah yang diujikanNya pada kita pasti mampu dihadapi oleh manusia. Sabda Nabi saw:

“Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya,”

Jangan juga berpikir kalau hal yang ‘jelek-jelek’ menimpa kita tidak ada gunanya. Banyak orang yang belajar dan menjadi dewasa justru dari nasib ‘jelek’ yang menimpa mereka. Ketika kita gagal mengerjakan soal ulangan dan mendapat nilai merah, kita jadi bagaimana cara belajar yang baik agar tidak terulang hal serupa. Sama seperti anak kecil yang menjerit kepanasan ketika menyentuh api lilin, ia tidak akan mengulanginya lagi. Ketika SMU ada kawan saya yang drop out dari sekolah, tapi prestasi belajar mereka malah meningkat di sekolah yang baru. Mereka juga mendapat PMDK di perguruan tinggi negeri.

Beberapa sahabat saya orang tuanya bercerai, tapi itu tidak membuat mereka frustrasi dan lari ke tempat-tempat yang bermasalah. Mereka malah jadi lebih mengenal tanggung jawab dan lebih dewasa dari teman-teman sebayanya. Banyak orang-orang yang justru berhasil setelah mengalami berbagai macam kepahitan hidup.

Maka bersabarlah. Hilangkan kebiasaan mengeluh atau berpikiran bahwa kita tidak pernah beruntung, atau kita memang akan sial terus menerus. Latihlah kedewasaanmu, hadapi semua masalah yang ada di depan kita dengan mata terbuka, dan ambil hikmahnya. Sabda Nabi saw.

“Jika ia mendapat kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika ia mendapat musibah ia bersabar, dan itu pun baik baginya.,”(HR. Bukhari).

Berpikirlah bahwa Allah sedang menguji kita, bukan membenci kita. Orang-orang yang kuat bukanlah yang selalu beruntung, tapi mereka yang bersabar dan berikhtiar ketika musibah menimpa kita. Jadilah remaja yang selalu berpikir positif terhadap kehidupan dan terhadap Allah SWT. Ia pasti memberikan kemudahan dan kebaikan bagi kita.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(Al Insyirah [94]:5-6).š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: