PRIORITAS AMAL

PRIORITAS

 

Pernahkah kamu merasa semua pekerjaan menumpuk di bahumu? Kamu harus mengerjakan PR buat besok, mencuci mobil bapak, rapat OSIS atau Rohis, ikut bimbel setiap sore, jalan-jalan ke mall ngecek gim terbaru dan latihan bela diri. Satu hari 24 jam dan tujuh hari seminggu rasanya belum cukup. Kalau boleh meminta pada Allah, kita mohon agar Ia menjadikan seminggu adalah 8 atau 10 hari.

Tapi ngeh nggak, seandainya – ini seandainya lho! – Allah memberi seminggu 8 bahkan 10 hari pun kegiatan kita tetap tidak akan ada habisnya. Selalu ada pekerjaan dan aktivitas baru yang menunggu untuk diselesaikan. Selama kita masih hidup, pekerjaan selalu menanti. Ternyata masalahnya bukanlah pada jumlah bulan, jumlah hari, dan jumlah jam. Tapi bisakah kita memanfaatkan setiap waktu menjadi berharga.

Ya, banyak remaja yang kebingungan dengan kesibukan mereka. Nggak sedikit yang kemudian jatuh sakit. Ada juga yang lantas stress, uring-uringan, dan ada juga yang kemudian menyalahkan semua orang yang memberi tugas itu pada mereka. Uring-uringan bahkan melemparkan kesalahan pada orang lain juga tidak akan menyelesaikan semua tugas-tugas kita. Bukankah kita sendiri yang menyanggupi menerima semua pekerjaan itu?

Lalu apa yang harus kita lakukan? Berkenalanlah dengan mahluk yang bernama ‘prioritas’. Apa itu? Jawabannya mungkin begini; pernahkah kamu membayangkan seorang insinyur merancang komplek industri? Ia harus menyiapkan laboratorium, membangun saluran pembuangan limbah, gudang penyimpanan, instalasi listrik, bahkan ruang makan bagi ribuan karyawan. Untuk tugas yang menurut saya rumit ia diberi jadual atau deadline. Itu sama sekali tidak mudah. Tapi seorang insinyur yang trampil dan berpengalaman bisa melakukannya sesuai jadual. Ada satu ‘kunci’ pekerjaan yang ia punya; yakni ia tahu apa yang pertama kali harus dikerjakan, dan ia punya tahapan-tahapan pengerjaannya. Ia juga tahu apa yang penting harus dilakukan dan apa yang bisa dikerjakan nanti, dan apa yang tidak penting untuk dikerjakan. Dalam kata lain, insinyur itu memakai prinsip skala prioritas; urutan-urutan kepentingan dalam aktivitas. Nggak mungkin dong ia mendahulukan membangun taman bunga sementara bangunan penting lain belum ia bangun.

Nah, ikuti cara berpikir itu dalam kehidupan kita. Sekarang pikirkan baik-baik semua aktivitas yang sedang menanti di depan kita; apakah semuanya penting untuk dikerjakan, ataukah sebenarnya ada yang bisa kita tunda bahkan bisa kita tinggalkan. Jangan-jangan kita merasa sibuk dengan pekerjaan yang sebetulnya tidak penting. Berhitunglah, penting nggak sih jalan-jalan ke mall bareng temen-temen untuk window shopping, padahal PR kimia harus dikumpulkan besok? Mana yang lebih penting untuk diambil tahun ini; kursus bahasa Inggris, bimbel untuk UMPTN, dan kursus musik. Bisakah itu semua diambil tanpa saling mengganggu?

Rasulullah saw. memberikan pedoman dalam beramal. Kata beliau; “Bagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya,”(HR. Turmudzi). Ya, coba terapkan prinsip prioritas amal dalam keseharian kita.

Kamu bisa mulai melakukan itu dari sekarang. Urutkan semua aktivitasmu, berikan poin Sangat Penting (SP) – Penting (P) — Agak Penting (AP) — Kurang Penting (KP) -Tidak Penting (TP), kemudian berikan nomor urut berdasarkan penilaianmu. Tentu saja yang Sangat Penting ada di urutan teratas, atau nomor satu, dan seterusnya.

Jangan malu mencabut aktivitas yang tidak penting mesti kamu sudah janji pada orang lain. Beri penjelasan baik-baik kenapa kamu membatalkannya. Lebih baik kamu mengerjakan PR kimia ketimbang jalan-jalan ke mall. Kamu bisa bilang, “PR ini susah jadi makan waktu lama ngerjainnya”, atau “Aku mau jalan-jalan tapi kalau PR ini sudah selesai”.

Juga jangan ‘kemaruk’ mengambil kegiatan yang sulit dikompromikan dengan kegiatan penting lainnya. Apalagi kalau itu ada konsekuensi tanggung jawab pada orang lain. Kalau memang kamu khawatir nanti keteteran bukankah lebih baik menolaknya (ingat tanggung jawab itu amanah yang akan diminta pertanggung jawabannya di depan Allah).

Belajarlah menjadi orang yang teratur. Dahulukan yang benar-benar penting. Itu semua akan membuat kamu merasa lebih rileks, lebih tenang, dan tidak akan merasa semua beban menumpuk di atas pundakmu. Kamu akan merasa 7 hari dalam seminggu cukup, bahkan lebih dari cukup.

Orang-orang yang berhasil bukanlah orang yang punya waktu lebih banyak dari orang lain. Itu tidak mungkin karena semua orang diberi jatah waktu yang sama oleh Allah; 12 bulan dalam setahun, 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari. Tapi orang yang sukses adalah orang yang bisa menjadikan setiap waktu adalah kesempatan dan momen yang berharga. Pak Adiwarman A. Karim, seorang cendekiawan muslim Indonesia dalam bidang ekonomi syari’at dan vice president Bank Muamalat Indonesia, punya cerita menarik untuk kamu-kamu. Sewaktu kuliah di IPB indeks prestasinya nggak bagus, malah jeblok. Bukannya mengurangi kegiatan ia malah ngambil kuliah juga di UI. Tapi apa yang terjadi sebaliknya, indeks prestasi belajar beliau malah mengkilat. Ketika kawan saya bertanya kenapa bisa begitu, ia menjawab,“Mungkin ketika saya kuliah di IPB saya kebanyakan main.” Pak Adiwarman sukses mengatur kesibukan kuliah dengan waktu yang ia miliki.

Terakhir, jangan lupa rihlah atau refreshing. Kita bukan robot, kita adalah manusia yang punya hati dan akal. Badan kita juga terdiri dari darah dan daging. Semuanya perlu istirahat dan makanan yang baik. Sekali-kali luangkan waktu bersama keluarga atau teman-teman untuk rihlah. Nggak salah kok, kalau kamu sesekali piknik, berkunjung ke rumah teman, atau main hiburan lainnya. Tentu saja bagi seorang muslim membaca Al Qur’an, shalat tahajud, atau mendengarkan pengajian, juga sebuah penyegaran rohani. Bahkan berpahala. Selamat membuat prioritas kegiatan dalam hidupmu.š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: