BAHAYA MAKSIAT

bahaya maksiat

Maksiat. Ini adalah satu kata yang mampu menjerumuskan manusia ke dalam kenistaan. berjuta Bani Adam telah terperosok ke kubang dosa, dan terlempar dari rahmat Tuhan karenanya. 

Maksiat berarti durhaka, pembangkangan, ‘ndablek, dan gak bisa diatur. Tidak mau tunduk dengan aturan Allah & Rasul-Nya, sehingga membuat hidup manusia yang melakukan tindak maksiat menjadi keluar dari jalur hidup yang diridhai.

Adam As telah dikeluarkan dari surga atas kemaksiatan yang ia perbuat. Iblis terusir dari rahmat Allah Swt karena maksiat. Dan sungguh rontoknya seluruh peradaban di muka bumi ini, hanya disebabkan satu kata. Itu tiada lain adalah ‘maksiat.’ Tiada yang beruntung dalam laku maksiat. Hal terbaik yang harus dikerjakan adalah meninggalkannya.

Maksiat tidak hanya dilakukan oleh kaum durjana, ia bahkan dapat membuat seorang shaleh tergelincir dan membuat para kekasih Allah terperosot. Karenanya berhati-hatilah dari perbuatan maksiat… menjauhlah! Sungguh dalam laku maksiat tidak ada seorang pun yang beruntung.

Demikian pula halnya bagi para jemaah haji atau orang yang berniat melakukan ibadah haji atau umrah di Baitullah. Dalam kondisi yang begitu karib (baca: dekat) kepada Tuhan, sungguh maksiat setitik pun akan mengaburkan makna ibadah (penghambaan diri) kepadanya.

***

Basri adalah seorang pengusaha sukses di kotanya. Tahun itu ia mengajak semua anggota keluarganya untuk melakukan ibadah haji, termasuk Andi anaknya.

Hari itu adalah tanggal 5 Dzul Hijjah. Kondisi Masjidil Haram hari itu sudah amat penuh. Mereka sekeluarga dan rombongan dari sebuah travel di Jakarta tengah melakukan thawaf umrah.

Usai berthawaf tujuh kali, Basri, Andi dan keluarganya menyempatkan untuk minum air zamzam dari keran-keran yang telah disediakan. Di sana, Basri memberitahukan kepada Andi yang bermata minus untuk mengusapkan matanya dengan air zamzam seraya berdoa agar diberi kesembuhan atas matanya.

Mendengar nasehat itu, Andi pun melakukannya. Selain ia ingin sembuh dari mata yang minus, ia pun sudah lelah dengan kaca dan besi yang menggantung di sekitar wajahnya.

Maka sungguh, begitu ia usai berdoa dengan khusyuk dan mengusapkan air zamzam pada matanya, maka sedikit demi sedikit matanya sudah mulai terang tak ubahnya sebuah kamera yang baru saja menemukan fokusnya. Andi begitu gembira, seolah tak percaya ia gunakan kacamata yang ia punya. Benar saja, begitu kacamata di pasang maka pandangan menjadi rabun, namun saat dilepaskan maka begitu jelas pandangan terlihat. Andi bersyukur kepada Allah Swt atas anugerah ini, namun ia belum menceritakannya kepada Basri ayahnya. Selepas itu mereka pun hendak melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwa.

Sebab ia pernah melakukan haji dan umrah berkali-kali, Basri mengusulkan kepada keluarganya untuk melakukan sa’i secara terpisah dari rombongan dan mengambil lokasi di lantai 2 masjid. Maka seluruh anggota keluarga pun menyetujui. Jutaan manusia saat itu berada di dalam masjid. Mencari celah untuk berjalan pun sulit sekali. Padahal untuk naik ke lantai 2, banyak sekali anak tangga yang harus dilalui. Namun enam orang anak-beranak ini tidak mengurungkan niat mereka untuk mencapai lantai 2 masjid dan bersa’i di sana.

Mengingat sesak dan penuhnya orang yang berkerumun, Basri meminta istri dan 3 orang putrinya untuk menaiki tangga terlebih dahulu. Sementara ia dan Andi berjalan di belakang demi menjaga keamanan. Satu putaran anak tangga sudah dilalui, padahal masih ada 3 putaran lagi yang harus dilalui untuk tiba di lantai 2. Pada pemberhentian pertama anak tangga itu, sungguh Ka’bah amat begitu cantik terlihat.

Basri menunjuk ke arah Ka’bah sambil berkata kepada Andi, “Lihat tuh…, Ka’bah indah betul!” Meski dari jarak kurang lebih 100 meter, Andi dapat melihat dengan jelas Ka’bah tanpa harus mengenakan kacamata. Bahkan tulisan kaligrafinya pun terlihat jelas oleh kedua matanya. Andi semakin bertambah yakin bahwa kedua matanya telah pulih.

Namun setelah melihat Ka’bah, Basri menggoda Andi untuk melihat pemandangan selanjutnya, “Nak… tuh lihat di sebelah sana, perempuan Turki cantik-cantik ya? Putih, mancung, tinggi lagi….!” Andi pun penasaran dengan ucapan ayahnya, maka Andi pun mencari titik dimana jari ayahnya menunjuk.

Benar saja, di sana terlihat seorang wanita Turki sedang duduk sambil menatap Ka’bah. Wanita tersebut sungguh cantik sehingga memikat pandangan 2 orang anak-beranak ini.

Namun sayang, keduanya lupa bahwa mereka tengah berada di rumah Allah Swt.

Maka serta-merta, pandangan yang tadinya begitu jelas dirasakan Andi, kini perlahan menjadi pudar dan semakin buram. Andi merasakan hal itu sedikit demi sedikit, ia beristighfar di dalam hati agar Allah Swt tidak menjadikan matanya minus lagi. Namun sayang, ia telah berbuat maksiat di rumah Allah Swt, meskipun hanya memandang ke seorang wanita, yang itu sering kali ia perbuat di tanah air.

Andi pun menangis menitikkan air mata, sementara ayahnya tak mengerti kenapa anaknya menangis.

Dari Abu Hurairah Ra dari Nabi Saw yang bersabda, “Dituliskan atas keturunan Adam bagiannya dari zina yang tidak mungkin dapat ia hindari. Kedua mata, zinanya adalah pandangan. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lisan, zinanya adalah berbicara. Tangan, zinanya adalah memegang. Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, zinanya adalah berhasrat dan berkhayal. Kesemuanya ini hanya tinggal didukung oleh kemaluannya, atau malah ditinggalkannya.” (Muttafaq Alaih)

Jaga Matamu dari Perbuatan Maksiat!

Selaras dengan kisah di atas, memang peluang dan kesempatan untuk melakukan zina adalah beragam. Sementara zina itu merupakan maksiat atau pembangkangan terhadap Allah Swt.

Bagaimana tidak disebut sebagai pembangkangan? Padahal Allah Swt telah jelas melarang hamba-Nya untuk melemparkan pandangan mata kepada pihak yang bukan mahram. Sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (An Nuur [24] : 30)

Maka siapa yang tidak mau menahan pandangannya dalam melihat sebuah perkara yang diharamkan oleh Allah Swt, maka ia telah bermaksiat dan membangkang atas ketentuan yang Allah telah tetapkan. Ketahuilah siapa yang bermaksiat, tidaklah beruntung!

Seorang pria bernama Sulistyo yang tengah mengemudikan mobilnya di tengah kemacetan lalu-lintas di sebuah jembatan tol di Jakarta. Saat itu demi menghilangkan kejenuhan atas pemandangan macet, maka ia lepaskan pandangan ke kanan dan ke kiri. Pandangan yang tak terarah itu rupanya dihantarkan oleh setan untuk jatuh ke mobil sedan Honda Jazz merah yang dikendarai oleh seorang wanita yang terlihat cantik.

Perempuan di dalam mobil tersebut tengah mengangkat kedua tangannya ke atas kepala di dalam mobil. Rupanya, ia sedang memasangkan ‘ikat rambut’ sebab kegerahan.

Demi melihat pemandangan itu, Sulistyo merasa tak mau kehilangan ‘pemandangan indah’ tersebut. Maka ia pun berusaha untuk terus mensejajarkan laju mobilnya dengan mobil Honda Jazz berwarna merah yang berada di sampingnya. Saking asyiknya ia melihat ke arah wanita cantik itu, rupanya ia tidak sadar bahwa jarak mobilnya sudah terlalu dekat dengan mobil di depannya. Maka tak pelak, Sulistyo pun tanpa sengaja ‘menyundul’ sebuah mobil lain yang berada di depannya. Maka kejadian manis sesaat itupun berakhir dengan sebuah perkara dan rasa penyesalan.

Dalam sebuah kisah klasik disampaikan bahwa ada seorang pria shalih yang bertugas untuk mengumandangkan adzan di sebuah masjid. Biasanya, untuk mengumandangkan adzan, pria tersebut harus naik ke atas menara agar suaranya sampai ke telinga-telinga manusia dan tak terbentur dinding.

Kali itu ia tengah berada di atas menara. Baru saja ia usai mengumandangkan adzan. Saat ia hendak turun dari menara, rupanya pandangan matanya tertuju pada seorang wanita yang kebetulan tinggal di dekat masjid. Maka setan pun membelenggu hati sang pria shaleh tadi. Mulai saat itu, ia bertambah giat untuk mengumandangkan adzan. Bukan karena adzannya, akan tetapi karena pemandangan yang selalu akan ia lihat dari ketinggian menara!

Hari demi hari, ia pun semakin dimabuk cinta. Tak tahan dengan hasrat yang menggebu, akhirnya ia menyempatkan untuk bertemu perempuan tadi.

Sesampainya di rumah tersebut, maka baru ia ketahui bahwa perempuan yang menawan hatinya tiada lain adalah seorang Nashrani.

Saat pintu dibuka oleh perempuan yang kebetulan masih gadis itu, maka sang muadzin pun menyampaikan maksudnya, “Aku datang ke sini untuk meminangmu…!” Si gadis yang kebetulan juga terpikat dengan ketampanan muadzin yang shaleh ini sempat mengiyakan dalam hati, namun lisannya berkata lain. “Engkau tidak bisa meminangku sebelum engkau datang kepada ayahku!” jawab sang gadis.

Seolah tak sabar, si muadzin menjawab “Baik. Aku akan memintamu menjadi istriku lewat ayahmu.” Kali ini sungguh setan menghiasi benak gadis tersebut untuk berkata, “Ayahku tidak akan setuju menjadikan engkau menantunya. Sebab engkau adalah seorang muslim. Kalau kau benar ingin menikahiku, maka tinggalkanlah agamamu!”

Tak kuasa ia menahan gejolak, maka sang muadzin yang tidak lagi shaleh itu pun menjawab, “Baik. Aku bersedia meninggalkan agamaku asalkan aku dapat mempersuntingmu!”

Setelah keduanya sepakat pada saat itu. Maka si gadis meminta sang muadzin untuk datang besok pagi demi menemui orang tuanya. Sementara sang muadzin sudah puas dirundung cinta. Maka pada kesempatan shubuh, ia naik ke atas menara untuk ‘mengumandangkan adzan & melihat gadis pujaannya’, namun sayang begitu ia hendak turun, rupanya ia terpeleset dan jatuh hingga tewas.

Alangkah malangnya manusia seperti ini, yang telah memupuk kebaikan sudah sedemikian lama. Namun berakhir dengan sebuah kenistaan maksiat yang dilakukannya. Lihat bagaimana maksiat mampu menistakan manusia! Tidakkah Anda sudah berpikir tentang bahaya maksiat?

Jangan Kira bahwa Allah Tak Melihatmu!

Saudaraku, sungguh manusia bersifat bodoh dan aniaya terhadap dirinya sendiri. Memang seringkali kita mengaku taat beribadah kepada Allah Swt. Namun saat merasa bahwa diri ini sudah sendiri dan tidak ada seorang pun yang melihat, maka nafsu diri membawa kita melakukan perbuatan maksiat.

Banyak sekali orang tua yang mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya, namun tatkala anak-anak mereka sedang tidak ada maka mereka melakukan kebodohan & kenakalan lebih dari yang dilakukan oleh anak-anaknya.

Banyak guru, ustadz, kyai yang menyampaikan kebenaran kepada orang banyak. Namun saat merasa luput dari manusia, mereka melakukan kejahatan dan kekejian yang melebihi orang biasa.

Ketahuilah… ketaqwaan itu ada di dalam hati, bukan di atas kepala atau badan berupa atribut kebaikan dan keshalehan. Maka siapa yang memiliki rasa takut dan muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah, maka hidupnya akan senantiasa dijaga oleh-Nya.

Di tengah-tengah kita banyak sekali kita dapati orang yang belum halal berpacaran dan bermesraan. Mereka mencari tempat-tempat yang sepi, rindang dan gelap. Mereka mengira bahwa dalam tempat-tempat sedemikian, maka tidak seorang pun yang akan melihatnya.

Seorang laki-laki di antara mereka tengah merayu kekasihnya dan berkata: “Tidak ada yang melihat kita duhai sayang kecuali bintang-bintang?” Lantas wanita itu berkata: “Lalu di mana pencipta bintang-bintang itu?!!”

Seorang ulama salaf masuk ke sebuah hutan yang penuh dengan pepohonan. Dia berkata: “Seandainya aku menyendiri di sini dengan melakukan satu kemaksiatan, siapa kira-kira yang melihatku?” Tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud yang suaranya menggema ke seantero hutan: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk [67]:14).

Wahai saudaraku, bertaqwalah kepada Allah Swt dimana saja engkau berada! Baik saat engkau bersama dengan orang lain, maupun saat sendirian. Sungguh setan itu amat kuat menggoda manusia yang sendirian, apalagi di tempat sepi. Hingga membuat manusia tersebut itu mengira bahwa ia tidak diperhatikan oleh siapapun juga. Ketahuilah, bila engkau bermaksiat meski dengan bersembunyi, suatu saat pasti Allah Swt akan mengungkapkan aib-aibmu. Naudzu billah…!

Seorang ulama salaf pernah berkata: “Apakah engkau menganggap bahwa engkau akan dikasihi oleh Tuhan yang tidak senang melihat kemaksiatanmu, sekalipun Dia tahu bahwa tidak ada yang melihatmu -saat engkau melakukan kemasiatan- kecuali engkau sendiri?!”

Ada sebagian ulama berkata: “Hai anak Adam, jika engkau menahan kemaksiatanmu saat bersama orang tapi saat engkau hanya bersama Allah (sendirian), engkau melakukannya dan tidak malu terhadap-Nya seperti engkau malu saat bersama sebagian makhluk-Nya, maka engkau antara dua jenis manusia: jika engkau mengira bahwa Dia tidak melihatmu maka sungguh engkau telah kafir. Dan jika engkau yakin bahwa Dia melihatmu tapi itu tidak mencegahmu sebagaimana engkau tertahan saat ada makhluk-Nya yang amat lemah itu, maka sungguh engkau telah bersikap lancang?!”

Baginda Nabi Muhammad Saw dalam sebuah haditsnya bersabda,

Dari Tsauban dari Nabi Saw yang bersabda, “Aku akan mengenal beberapa kaum dari ummatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal kebaikan sebesar gunung-gunung Tihamah. Maka seluruh kebaikan itu serta-merta dijadikan debu beterbangan oleh Allah Ta’ala.” Tsauban berkata kepada baginda Rasul, “Wahai Rasul, mohon agar kau sampaikan kepada kami sifat mereka supaya kami tidak sampai seperti mereka padahal kami tidak tahu!” Rasululullah Saw menanggapinya dengan bersabda, “Ketahuilah, mereka itu adalah para saudara kalian dan dari jenis kalian. Mereka menjalani malam seperti yang kalian jalankan. Namun mereka adalah sekelompok manusia yang bila merasa sendirian maka mereka mengerjakan maksiat!” HR Ibnu Majah

Tidakkah hadits ini menggetarkan hatimu wahai saudaraku untuk pergi meninggalkan maksiat! Tinggalkanlah… mulai sekarang!

Fudhail Bin ‘Iyadh berkata: “Tidak ada satu malam pun yang kegelapannya sudah pekat dan tirai-tirai malam sudah diturunkan kecuali Allah Yang Maha Mulia berfirman: “Siapa yang lebih besar kedermawanannya dari-Ku? Bagaimana bisa makhluk bermaksiat kepada-Ku sedangkan Aku selalu mengintai mereka? Aku yang menjaga mereka di tempat tidur, -yang mana mereka terkadang bersikap-seakan-akan tidak pernah maksiat kepada-Ku. Aku yang memelihara mereka, -yang mana terkadang mereka bersikap-seakan-akan tidak pernah berbuat dosa didepan-Ku. Aku sangat dermawan dengan memberikan karunia kepada orang yang durhaka dan Aku juga memberikan karunia kepada orang yang berbuat jahat. Pernahkan orang yang memohon kepada-Ku lalu tidak Aku penuhi? Atau pernahkah orang yang meminta kepada-Ku lalu tidak Aku beri? Pernahkah ada orang yang bersimpuh di pintu-Ku lalu Aku usir? Aku-lah Maha Pemberi karunia dan dari-Ku-lah karunia. Aku Maha Pemurah dan dari-Ku-lah kemurahan. Aku Maha Dermawan dan dari-Ku-lah kedermawanan. Di antara tanda kedermawanan-Ku, bahwa Aku mengampuni orang yang durhaka setelah dia melakukan kemaksiatan. Di antara tanda kedermawanan-Ku, bahwa Aku memberikan kepada hamba apa yang dia minta kepada-Ku dan memberikan apa yang tidak dia minta kepada-Ku. Dan di antara tanda kedermawanan-Ku, bahwa Aku memberi orang yang bertaubat hingga seakan-akan dia tidak pernah maksiat kepada-Ku (artinya semua dosanya dihapus). Kemana makhluk melarikan diri dari-Ku? Ke pintu mana selain pintu-Ku orang-orang durhaka akan bersimpuh?” HR.Abu Nu’aim dalam Hulliyatul Auliyâ’.

Maksiat Telah Menistakan Diriku

“Perbuatan baik mempunyai dampak bagi bersinarnya wajah, cahaya di hati, lapangnya rezeki (yang baik), kuatnya ibadah, dan dicintai oleh sesama. Sedangkan perbuatan buruk mempunyai dampak bagi suramnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, sempitnya rezeki (yang baik) dan dibenci oleh sesama. Bukan hanya itu, maksiat akan memiliki dampak dan pengaruh lainnya bagi kehidupan pelakunya, baik di dunia ini, maupun di akhirat kelak. (Abdullah bin Abbas Ra)

Maksiat akan membawa pelakunya merasa malu kepada siapa saja. Sungguh maksiat dapat menistakan manusia sampai tingkat yang terendah. Tidakkah Anda perhatikan bahwa Adam As tengah berada di surga, namun karena ia bermaksiat kepada Tuhannya maka ia pun ternistakan ke dunia.

“Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.” (Thaha [20] : 121)

Sementara iblis laknatullah alaihi, adalah makhluk yang akrab dengan rahmat Allah swt. Namun dengan kesombongannya ia membangkang perintah Allah. Ia pun bermaksiat kepada Allah Swt, karenanya ia pun terusir dari rahmat-Nya.

Bukankah ini menjadi sebuah pelajaran bagi orang-orang yang berakal?

Saudaraku…, para ulama mencatatkan untuk kita beberapa dampak dari tindak maksiat. Sungguh dari semua poin yang akan saya paparkan, tidak satupun dampak maksiat yang memberi keuntungan buat kita. Karena itu, berniatlah untuk meninggalkan maksiat semampumu. Semoga rahmat & bimbingan Allah Swt senantiasa menaungi kita semua. Amien.

Dampak-Dampak Maksiat:

1. Murka Allah. Dalam sebuah hadits qudsi Tuhan kita Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Aku adalah Allah. Tiada Tuhan melainkan Aku. Jika Aku ditaati maka Aku akan ridha. Jika Aku ridha maka Aku akan memberkahi, dan keberkahan-Ku tidak ada batasnya. Jika Aku dimaksiati maka Aku akan murka. Jika Aku telah murka maka Aku akan melaknat. Dan laknat-Ku akan terus berlangsung hingga tujuh turunan.” HR Ahmad

Berhentilah berbuat maksiat dan janganlah Anda mengundang murka Allah Swt.

2. Berkurangnya Rezeki. Pola hidup berikut ini sering kita dapati di tengah masyarakat. Ada manusia yang memiliki harta banyak, rumah dan mobil mewah. Banyak orang yang beranggapan bahwa hidup seperti itu amatlah enak. Namun sayang, orang yang menjalankan hidup sedemikian malah berkata, “Andai saya tidak seperti ini, pasti saya tidak terlibat hutang dan bisa hidup tenang…!”

Rupanya harta yang banyak tidak membuat orang merasa cukup atas rezeki yang diberikan. Malah harta yang berlimpah dengan mudah membuat orang berbuat maksiat dan bangga atas kemaksiatan yang dilakukannya. Karenanya, harta yang ia miliki akan terus terasa berkurang

Rasulullah Saw bersabda:

“Harta tidak akan berkurang kecuali karena sebab maksiat.”

3. Berkurangnya Ilmu. Maksiat akan menghantarkan pelakunya untuk sulit menerima ilmu pengetahuan. Mengapa demikian? Sebab ilmu adalah milik Allah. Dia adalah cahaya Allah. Sungguh cahaya Allah tidak akan pernah diberikan kepada orang yang bermaksiat. Itulah yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dalam sebuah baitnya.

4. Merasa Jauh dari Manusia : Salah seorang tabiin mengakatakan, “Aku dapat merasakan dampak maksiat pada akhlak istri, anak dan hewan peliharaanku!”

Jika Anda bermaksiat kepada Allah Swt, pernahkah Anda merasakan pengalaman yang sama. Rumah tangga yang suka berkelahi. Anak yang tidak taat. Kendaraan sering nyerempet atau nabrak. Bila ini terjadi, mungkin kita sudah terlalu sering melakukan maksiat kepada Allah Swt!

5. Wajah & Hati yang Gelap. Tidakkah Anda memperhatikan wajah orang yang sering melakukan maksiat? Kebanyakan dari mereka bertampang kusut dan awur-awuran. Tidak seperti mereka yang taat kepada Allah Ta’ala. Inilah sebuah cerminan.

Sedangkan hati mereka yang kerap bermaksiat akan keras bahkan melebihi batu. Sulit sekali kebenaran dan cahaya masuk ke dalamnya. Bila sudah demikian hendak kemana mereka mencari jalan?

“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An Nisaa [4]: 14)

6. Melakukan Maksiat yang Lain. Ketahuilah bahwa maksiat membawa pelakunya untuk bermaksiat lagi. Siapa yang berani melakukan maksiat atau dosa kecil, maka ia akan terbiasa melakukannya hingga ia mencoba untuk melakukan yang lebih besar lagi. Terus dan terus ia melakukannya hingga Allah Swt memberikannya pelajaran dengan tiba-tiba.

Siapa yang memulai bermaksiat kepada Allah Swt dengan merokok, maka ia akan terus menganggap bahwa rokok itu tidak mendatangkan bahaya untuk dirinya. Maka begitu ia yakin atas hal itu, maka ia akan mencoba yang lebih hebat lagi semisal narkoba dan seterusnya. Hingga ia bukan saja kehilangan akalnya, bahkan ia dapat kehilangan harta, keluarga yang ia cintai bahkan ia kehilangan nyawanya.

Ketahuilah bahwa maksiat akan terus dilakukan oleh pelakunya, hingga Allah Swt memberinya pelajaran dengan tiba-tiba yang amat mengagetkan. Naudzubillah!

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al An’aam [6] : 44)

7. Merasa Hina Diri: Sungguh, tiada ada seorang pun yang bermaksiat mampu menatap wajah Allah Swt. Sebab wajah-Nya amat mulia dan seorang yang nista tak berani mengangkatkan wajahnya demi menatap wajah Allah Swt. Maksiat membawa kenistaan. Kenistaan itu tidak akan tertebuskan kecuali bila sudah mendapatkan ampunan dari Dzat Yang Maha Pengampun.

Anda dapat merasakan atmosfir kehinaan diri pelaku maksiat dalam kisah yang termaktub di hadits berikut ini:

Dari Umraan Bin Hushoin Radhiallahu Anhu: Bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi Wasallam dalam keadaan mengandung hasil perbuatan berzina. Wanita itu berkata: “Wahai Rasululah, aku terkena Had – hukuman dalam Islam yang harus dilaksanakan terhadap pelaku zina, sedangkan hukuman bagi pelaku zina muhshan (yang sudah menikah) adalah dirajam- maka laksanakanlah hukuman itu kepadaku!”

Wanita ini datang kepada Rasulullah Saw sebab tak kuat menanggung dosa dan rasa malu akibat perzinahan yang ia lakukan. Kemudian Rasulullah Shallaahu Alaihi Wasallam memangil wali dari wanita itu (yaitu orang yang dapat bertanggung jawab, baik itu ayah, saudara atau yang lainnya). Lalu Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam bersabda, “Persiapkan wanita itu, apabila selesai bawa kembali kepadaku!” Mereka lalu melaksanakan perintah Rasulullah, dan membawanya kembali kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menyuruh agar mengencangkan pakaian wanita itu dan hukuman rajam dilaksanakan. Setelah meningal, Rasulullah menshalatkan wanita itu.

Umar bertanya kepada Rasulullah, “Kenapa engkau menshalatkannya wahai Rasulullah, bukankah ia telah berzina?” Rasulullah menjawab,

“Wanita itu telah meminta ampun dengan bertaubat. Apabila engkau bagi kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah akan terlalu luas taubatnya, dan apakah engkau menemukan wanita yang sungguh-sunguh dengan menyerahkan dirinya ingin bertaubat kepada Allah Subhaanahu Wata’aala.”HR. Muslim

Itulah beberapa dampak maksiat yang kerap dirasakan bagi orang yang melakukannya. Tidak satu pun wahai saudaraku keuntungan yang kau akan dapat dari berbuat maksiat. Karenanya, tinggalkanlah segera!

Allah Ingin Kalian Membenci Kemaksiatan

Akhi fillah…, sungguh kemaksiatan akan membawa kepada kerugian. Ia telah membuat diri manusia dibenci oleh lingkungan, keluarga, masyarakat bahkan oleh dirinya sendiri. Sungguh kemaksiatan akan berakhir dengan kebencian. Bahkan Allah Swt pun membenci diri ini saat kita berulah dengan kemaksiatan. Firman-Nya tertera pada kalimat berikut ini:

“tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan.”

(Al Hujuraat [49] : 7)

Allah menghiasi keimanan pada hamba yang Dia cintai, lalu Allah membuat mereka benci akan kemaksiatan! Apakah kalian masih mencintai kemaksiatan, wahai saudaraku…?

Seorang remaja yang akrab dengan narkoba dan perzinahan, siang itu datang menghadap ke seorang kyai untuk bertaubat. Tubuhnya kurus. Matanya tirus. Tampang semrawut.

Siang itu ia datang dengan tubuh berguncang dan air mata bercucuran. Lewat suaranya yang sesenggukan ia mengisahkan kepada kyai bahwa ia baru dipukuli dan diusir oleh keluarganya sebab ia telah menghamili seorang gadis, dan keluarga sudah tidak kuat menanggung ulahnya yang suka narkoba dan melakukan banyak kemaksiatan.

Bumi ini sepertinya sudah tidak sudi lagi ia pijak. Pemandangan yang terlihat olehnya dimanapun juga hanyalah gonjang-ganjing yang amat dahsyat. Langit seolah mau runtuh menimpanya. Ia bingung hendak kemana pergi mencari perlindungan. Namun langkahnya tiba-tiba tergerak ke rumah Kyai Shiddiq, seorang ulama yang disegani di daerahnya. Maka disanalah ia menyampaikan keinginannya untuk bertaubat.

Kyai Shiddiq sudah mengerti musibah yang menimpa pemuda tersebut akibat maksiat yang ia lakukan. Namun Kyai Shiddiq belum menemukan ide untuk memberi nasehat terbaik bagi sang pemuda. Lama Kyai itu berpikir, tiba-tiba Kyai Shiddiq berdiri dan berkata kepada si pemuda, “Untuk menghilangkan beban pikiranmu, bagaimana kalau ngobrol sambil jalan-jalan?” Pemuda yang sudah tidak mampu berpikir lagi itu hanya mampu menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Dalam perjalanan di atas kaki itu banyak nasehat yang diberikan Kyai Shiddiq kepada pemuda untuk bertaubat. Namun setiap kali diberi nasehat untuk taubat, pemuda tadi terus menanyakan hal yang sama, “Dari mana saya harus memulainya, pak kyai?” Setiap kali kalimat itu diucapkan si pemuda, sang kyai sendiri bingung harus mulai darimana.

Hingga saatnya saat mereka melintas di sebuah pekuburan, maka sekonyong-konyong Allah Swt memberi ilham kepada pak kyai.

“Bagaimana pendapatmu kalau kita melakukan muhasabah* di pekuburan ini?” Lagi-lagi pemuda itu hanya mampu mengangguk saja atas setiap usulan pak kyai.

Maka di atas sebuah kubur, pak kyai memberikan nasehat-nasehat taubat kepada pemuda itu agar ia kapok untuk bermaksiat. Namun pak kyai masih belum yakin bahwa nasehat-nasehatnya sudah menembus hati sanubari pemuda tadi. Maka tiba-tiba Allah Swt mengantarkan pandangan pak Kyai Shiddiq pada sebuah kubur yang baru digali dan belum ada penghuninya.

Akhirnya keduanya pun turun ke dalam kubur, dan di sana pak kyai sekali lagi memberikan nasehatnya.

“Anakku…, tidakkah engkau membayangkan ganjaran orang yang berzina saat ia dikubur di tempat yang sempit dan gelap seperti ini… Masihkah engkau mau bergaul dengan sahabatmu yang selalu membawamu dalam kemaksiatan…. Akankah kau terus-menerus membangkang dan melawan orang tua dan keluarga yang menyayangimu?” Itulah pertanyaan yang diajukan oleh pak kyai secara bertubi-tubi kepada pemuda.

Melihat keadaan kubur dan mendengarkan pertanyaan dari pak kyai, sang pemuda merasa bahwa ia tengah berada dalam adzab kubur. Seolah dirinya tengah diinterogasi oleh Munkar & Nakir. Tubuhnya semakin berguncang dan ia hanya bisa berteriak, “Tidak… tidak…. tidak…. Saya taubat dari perbuatan maksiat!!!”

Setelah pemuda itu mendapatkan ketenangan dan berjanji untuk berhenti meninggalkan maksiat, akhirnya mereka berduapun naik kembali ke atas bumi. Dan sungguh keduanya kini merasakan bahwa udara pertaubatan membawa kesegaran kembali untuk meneruskan hidup di dunia ini!

Itulah gambaran orang yang telah membenci dirinya sendiri akibat ulah maksiat. Namun Alhamdulillah, Allah Swt masih memberikan kesempatan bertaubat, beriman dan beribadah sehingga ia dapat memperbaiki kehidupannya sendiri.

Demikianlah…., Allah amat suka melihat hamba-Nya beriman dan Dia benci bila sang hamba melakukan kefasikan, kekufuran dan kemaksiatan!

Satu hal yang perlu dilakukan oleh seseorang yang merasa dirinya telah nista akibat tindak maksiat yang dikerjakannya. Segeralah bertaubat dari dosa kepada Allah Swt!

Namun sering kami dapati bahwa setan terus menghalang-halangi manusia yang jera akibat maksiat saat mereka hendak bertaubat. Akibatnya, manusia tadi tidak jadi bertaubat atau menunda-nunda niat baiknya. Indikasi orang seperti ini seringkali bertanya saat mereka diajak untuk bertaubat, “Apa yang harus kami lakukan…. atau, darimana kami harus memulainya…?!”

Bagi mereka yang berniat untuk berhenti dari maksiat, maka mulailah membaca doa yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw kepada sahabatnya yang bernama Abu Bakar As Shiddiq.

Dari Abu Bakar Shiddiq Radhiallaahu ‘Anhu, ia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam, “Ajari aku bacaan do’a yang dapat aku baca dalam setiap shalat!” Beliau bersabda, “Bacalah doa ini….,

Ya Allah sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Karenanya, ampunilah aku dan berilah aku rahmat sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bacalah doa ini sesering mungkin dalam shalat, khususnya bila dosa maksiat tengah membayangimu. Semoga ampunan dan rahmat Allah senantiasa menyertaimu.

Hal selanjutnya yang juga harus dilakukan oleh orang yang jera dari kemaksiatan adalah melakukan terapi istighfar yang harus rutin ia kerjakan. Terapi ini pernah dilakukan sekaligus diajarkan Rasulullah Saw kepada para sahabatnya. Sebagaimana dalam hadits berikut dituturkan:

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘Anhu dari Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“Sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebanyak lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)

Mengenai jumlah bilangan tujuh puluh istighfar yang diajarkan oleh Rasulullah Saw sebagai terapi harian taubat, maka penjelasannya dapat Anda pahami dalam hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu Anhu, ia berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam dalam perjalanan bersabda: ‘Beristighfarlah!’ Maka kamipun beristighfar. Rasulullah bersabda, ‘Lengkapilah!’ (maksudnya sebanyak tujuh puluh kali) maka kamipun melengkapinya. Lalu beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba atau ummat beristighfar pada Allah sebanyak tujuh puluh kali, kecuali Allah akan mengampuni tujuh ratus dosanya. Tidak mungkin seorang hamba berbuat tujuh ratus dosa dalam semalam.”

Itulah yang diajarkan baginda Rasulullah Saw kepada ummatnya. Insya Allah, siapa yang kembali ke jalan Allah dan menghindari laku maksiat yang dikerjakannya, maka sungguh pintu taubat Allah Swt senantiasa terbentang baginya siang dan malam.

Marilah wahai saudaraku…, kini saatnya untuk berhenti bermaksiat dan kembali kepada jalan ketaatan terhadap Allah Swt.(Ahmad Yasin Ibrahim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: