SYURGA JUGA UNTUK REMAJA

syurga

Acapkali kita memandang sebelah mata terhadap berbagai persoalan remaja. Adakalanya kita mengabaikan beragam masalah yang mereka hadapi. Sikap seperti ini sebenarnya malah kontraproduktif, en bikin teman remaja jadi merasa ada alasan untuk menjalani hidup sejauh yang disuka. Mau begini kek, mau begitu kek. Nggak jadi soal. Yang penting katanya, “asyik-asyik aja”. Apalagi nggak ada yang ngelarang. Wah, bisa-bisa mau senewen juga kali sah-sah aja tuh. Walah?

Terus lagi, pandangan yang menganggap bahwa masa remaja adalah masa suka-suka, sudah kadung jadi opini umum. Entah siapa yang memulainya, yang pasti banyak remaja yang mengamalkan falsafah tersebut. Ada sebuah semboyan bernada canda pernah saya dengar, katanya neh, “Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga”. Semboyan tersebut ideal banget tapi salah. Lho kok bisa?

Begini, paling nggak yang bikin semboyan punya keiinginan untuk hidup sempurna. Sebuah cita-cita yang mulia tentunya. Namun, bukankah untuk mencapai kebahagiaan juga butuh usaha? Bukankah keberhasilan itu bukan lahir dari prinsip mantra tukang sulap, “sim salabim!”? Bukankah hidup ini penuh dinamikanya? Rasanya, kalo remaja nggak punya tanggung jawab dalam kehidupan ini, juga bisa tambah bikin masalah, tuh. Tul nggak?

Saat ini, banyak orangtua merasa menyerah menghadapi remaja. Bahkan banyak di antara para orangtua udah merasa gagal dalam membina remaja. Di sinilah orangtua dituntut untuk terampil mengasuh, merawat, membina, dan tentunya mengarahkan remaja kepada tujuan yang benar. Tugas seperti ini memang udah jadi konsekuensi sebagai ortu. Sebab, menjadi ortu itu pilihan, bukan kebetulan. Maka, sungguh aneh bin ajaib kalo ada ortu yang nggak peduli sama anak-anaknya, khususnya mereka yang mulai beranjak remaja. Itu sebabnya, hidup dengan remaja memang butuh keterampilan dan komitmen. Mampu dan bertanggung jawab.

Kalo mau rajin ngulik kehidupan remaja, kita bisa dapetin tuh beberapa perilaku ‘aneh’ remaja. Barangkali, dengan mengetahui bocoran ini, kita bisa lebih bijak dalam mengasuh remaja.

Ada beberapa ciri khas remaja. Pertama, remaja seringkali nggak bisa mengendalikan emosi. Ini benar. Coba deh lihat, mereka yang tawuran kadang dipicu masalah yang sepele aja. Salah-salah, urusannya bisa langsung ‘tahlilan’ tuh. Kedua, sahabat adalah segalanya. Ini bisa kita pahami. Sebab, remaja sangat memperhatikan apakah dirinya dapat diterima oleh teman-teman sebayanya atau nggak. Jadi jangan terlalu heran kalo ada remaja yang merasa lebih terhina kalo ditolak gabung dengan teman mainnya. Ketiga, alergi dengan orangtua. Bayak teman remaja yang merasa kalo dekat dengan ortu justru seperti bayi dan ketergantungan. Itu sebabnya, ‘mandat’ remaja mengatakan: tidak! Walah? Keempat, remaja suka nggak peduli. Lihat deh teman remaja, mereka sangat ahli dalam membiarkan kamarnya berantakan, tiduran di tempat tidur sepanjang hari, mendengarkan musik, nonton televisi, dan tidak mengerjakan apa-apa.

Paling nggak keempat ciri remaja tadi, semoga memudahkan orangtua untuk mengasuh remaja. Sebab, remaja juga butuh kasih sayang, dan tentunya kucuran rasa cinta dari orangtua dan orang-orang yang dekat dengannya. Teman remaja, kamu juga butuh untuk menikmati hidup dengan baik. Kamu punya hak kok.

Mengasuh remaja dengan cinta adalah sebuah keharusan. Itu sebabnya, wajar banget kalo kita kudu bersikap empati terhadap masalah yang dihadapi remaja. Membantu dalam mengenali dan menamai perasaan mereka dengan perasaan orang lain. Supaya tumbuh rasa empati dalam diri remaja. Kita juga butuh keterampilan untuk mengelola perasaannya sehingga teman remaja bisa dan mau melaksanakan tanggung jawab. Membantu remaja dalam menentukan tujuan dan rencana. Baik rencana jangka panjang maupun rencana jangka pendek. Mengasah keterampilan kita untuk bisa memberikan arahan agar remaja mampu membangun hubungan positif dengan lingkungannya. Termasuk kita juga dituntut untuk bisa membantu agar remaja mampu untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan yang bijaksana. Kita pun ditantang untuk bisa memberikan yang terbaik buat remaja; bahwa mereka juga mampu untuk meraih semua harapannya. Remaja jadi punya rasa tanggung jawab. Inilah yang saya maksud mengasuh remaja dengan cinta.

Oke deh, ngomongin masalah remaja selalu menarik. Pokoknya, syik-asyik deh. Nah, buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah wujud peduli sang penulis terhadap masalah yang dihadapi remaja. Judulnya pun oke punya, Surga Juga Untuk Remaja. Dalam buku ini, Mas Iwan Januar, teman dekat saya ini, ingin berbagi berkah dengan teman remaja.

Masalah-masalah yang dihadapi teman remaja, insya Allah dibahas tuntas dengan gaya bahasa yang mudah dicerna. Mengingat, konon kabarnya remaja pengennya yang instan-instan aja dan cepet nyambung. Maka buku motivasi yang laris-manis macam Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen banyak disuka. Bukan saja oleh remaja, malah.

Surga Juga Untuk Remaja memberikan alternatif bacaan yang menyegarkan bagi teman remaja. Sebab, jarang banget ada buku yang bisa mengartikulasikan setiap pembahasan dengan gaya bahasa yang enak dan cocok. Seperti dalam buku ini ada tulisan berjudul Allah itu Ada. Barangkali, kita langsung stres dengan judul seperti itu karena membayangkan bakalan muncul beragam filsafat di dalamnya. Tapi, ternyata nggak juga tuh. Kalo pun ada, tapi Mas Iwan berhasil mengartikulasikan pembahasan ini dengan lincah, enak, dan cepet nyambung. Intinya, setelah saya membaca dan memahami tulisan-tulisan sahabat saya sejak di SMU ini, di dalamnya tersimpan banyak amunisi yang bisa menjadi senjata untuk mencerahkan pemikiran remaja. Mas Iwan, hendak mengajak teman remaja untuk ke surga. Nggak berlebihan tentunya, sebab, remaja mana sih nyang mau ke neraka? Dijamin nggak ada yang mau tuh!

Akhir kata, menjadi baik itu pilihan, dan kita harus mewujudkannya. Hidup ini memang indah, termasuk juga banyak rintangannya. Namun jangan khawatir, selama kita masih memiliki semangat untuk meraih semua harapan kita. Semangat pula yang akan memicu kita untuk memiliki kemampuan untuk mengalahkan sebegitu banyak rintangan. Rasulullah saw. dan para sahabatnya, sudah begitu kenyang menghadapi rintangan dan hambatan dakwah. Namun nyatanya, semangat yang dibangun dengan keimanan, mampu mengalahkan segalanya. Pasti!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: