KITA ADALAH SAUDARA

kita adalah saudara

Seorang remaja Palestina yang menjadi sahabat dalam sebuah milis pernah mengirimkan emailnya kepada kami, kru Permata. Menceritakan pengalaman puasa di sana. Alhamdulillah, ia termasuk dalam barisan pemuda yang cinta pada perjuangan dan dakwah Islam. Pada suatu hari di bulan Ramadlan ia tertangkap oleh tentara Israel setelah melakukan aksi perlawanan. Selama masa tahanan berbagai siksaan yang di luar ambang batas kemanusiaan ia rasakan. Kejamnya siksaan yang dilakukan militer Israel pada para pemuda muslim membuat sebagian besar orang sulit menjalankan ibadah puasa. Jangankan berpikir untuk berbuka apalagai berlebaran, untuk berpuasa pun banyak di antara mereka yang tidak sanggup, akibat kerasnya siksaan.

Ia menulis, “Di manakah mereka kaum muslimin, sementara kami berada di sini? Kalian berbuka puasa dengan daging dan makanan yang beraneka macam, sedangkan aku berbuka dengan darahku. Apakah mereka tidak mengetahui kelak akan ada Yaumul Hisab, mereka akan berada di pengadilan Allah dan mereka akan ditanya apa yang telah mereka lakukan untuk saudara-saudara mereka? Apakah kalian meninggalkan kami untuk dibunuh, ataukah kalian bersuka cita atau apa?”

Jujur saja, saya bergidig membaca isi suratnya. Ia meminta, bahkan menuntut kita, sesama muslim untuk sadar bahwa di luar rumah kita, tanah air kita, banyak saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita. Seperti remaja di Palestina, mereka terpenjara di negeri sendiri. Sulit rasanya membayangkan bagaimana bisa tidur nyenyak di tempat seperti Palestina atau Irak.

Ya, tengoklah ke seluruh dunia, kita adalah umat yang besar yang sedang tercerai berai dan tak punya kekuatan. Kita sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kurang bahkan tidak peduli dengan keadaan mereka. Jangankan Palestina, ketika saudara-saudara kita di Ambon tertimpa musibah, mereka yang peduli dan memikirkan jauh lebih sedikit ketimbang mereka yang cuek.

Pantaskah kita berprinsip EGP, Emang Gue Pikirin. Saudara juga bukan. Benarkah demikian? Lupakah kita dengan firman Allah ini:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara,”(Al Hujuurat [49]:10).

Juga sabda Nabi saw.:

“Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,”(HR. Bukhari).

Kita telah diikat dengan ikatan ideologis sehingga menjadi bersaudara. Pikirkanlah, tidak ada agama yang mampu mempersatukan umat manusia demikian luas selain Islam. Islam datang menghapus batas suku bangsa, perbedaan bahasa, warna kulit, suku bangsa, status sosial, dan perbedaan-perbedaan fisik lainnya. Sabda Nabi saw.

“Wahai manusia ingatlah, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu. Sesungguhnya tidak ada keutamaan orang Arab atas orang bukan Arab, dan tidak ada keutamaan orang bukan Arab atas orang Arab, dan tidak ada keutamaan bagi orang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan yang berkulit hitam atas yang berkulit merah kecuali dengan takwa,”(HR. Ahmad).

Sementara itu masih ada saja orang yang meributkan perbedaan suku bangsa dan warna kulit, serta status sosial. Di Australia, orang-orang kulit putih merampas dan menganiaya penduduk asli benua itu, suku Aborigin. Di Amerika, suku Indian yang pribumi terusir oleh bangsa Eropa. Di Amerika pula rasialisme masih ada. Membingungkan, ada orang yang merasa lebih mulia hanya karena warna kulit dan suku bangsa. Padahal, bukankah kita lahir ke alam dunia dengan keadaan seperti ini adalah atas ketentuan Allah? Sangat jelas, hanya Islam satu-satunya agama dan sistem kehidupan yang manusiawi dan mampu mempersaudarakan semua umat manusia.

Karena itulah Rasulullah saw. meminta kita untuk menjaga dan mempertahankan ukhuwah ini. Sabda Nabi saw.:

“Muslim bagi muslim yang lain seperti bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain,”(HR. Bukhari).

Seandainya seluruh kaum muslimin di dunia ini bersatu, bayangkan kekayaan alam yang kita miliki, jumlah tenaga kerja yang ada dan lapangan pekerjaannya. Juga kekuatan yang kita miliki, pastilah sangat besar. Dengan mudah kita juga bisa menepiskan berbagai ancaman musuh. Kita juga tidak akan mengenal istilah ‘pendatang haram’ bagi orang yang berbeda suku bangsa, karena kita adalah saudara. Tidak ada sengketa antar negara, saling mengusir apalagai saling menganiaya, karena kita adalah bersaudara. Penderitaan saudara kita adalah penderitaan bersama. Kita tidak akan merasa sendiri ketika sedang mendapat musibah, dan akan merasa gembira bersama ketika mendapatkan kebahagiaan.

“Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, tolong menolong, dan cinta laksana satu tubuh. Jika satu anggota darinya merasa sakit, maka ia akan mengajak seluruh seluruh tubuh dengan demam dan tidak bisa tidur,”(HR. Bukhari).

Kalau negara-negara di Eropa bisa bersatu dalam Masyarakat Eropa (ME), mengapa kita, umat Muslim, tidak bisa melakukannya. Bukankah Tuhan kita satu, Nabi kita satu, kiblat kita satu, kitab suci kita satu? Apalagi yang kita tunggu?

Sejak sekarang mulailah kita mencoba untuk peduli pada saudara-saudara kita sesama muslim, baik di luar negeri ataupun di dalam negeri. Lihatlah tetangga-tetangga kita yang muslim, mereka juga saudara kita. Remaja muslim di Palestina yang setiap hari melontar batu dan hidup di antara desingan peluru militer Israel juga saudara kita, remaja di Irak yang setiap hari kekurangan gizi dan obat-obatan adalah saudara kita. Seandainya semua remaja muslim berpikir seperti demikian, insya Allah tidak akan ada lagi ratapan remaja muslim dari balik tembok penjara Israel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: