PENGEMBANGAN RELIGIOUS CULTURE

images

PENGEMBANGAN RELIGIOUS CULTURE

DI SMP NEGERI 280 JAKARTA BERBASIS KOMUNITAS

Bab I : Pendahuluan:

1.1. Latar Belakang Masalah PAI

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Termasuk di dalamnya pengembangan mata pelajaran.

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Salah satu karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., berbudi pekerti yang luhur (berakhlak yang mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif dari luar.[1]

Selian itu masyarakat memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Pendidikan Agama Islam di sekolah. Ekspektasi tersebut terlihat dari keinginan orang tua agar anaknya memiliki akhlak yang baik setelah mengikuti pelajaran agama. Pembentukan moral dan akhlak bagi siswa mendapat tantangan yang berat dari lingkungan sekitar. Perkembangan teknologi dan kesibukan serta perhatian orang tua menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh Pendidikan Agama Islam.

Hal itulah yang menjadi latarbelakang pengembangan budaya beragama yang lebih kuat di SMP Negeri 280 Jakarta. Pengembangan budaya agama yang dilakukan di SMP Negeri 280 Jakarta lebih kepada penguatan beberapa kegiatan keagamaan melalui pembiasaan, melalui ekstrakurikuler, dan melalui kegiatan keagamaan. Pengembangan kegiatan tersebut dilaksanakan berbasis komunitas. Yaitu pengembangan budaya keagamaan melalui kelompok siswa dan guru.

1.2. Permasalahan PAI di Sekolah

Di SMP Negeri 280 Jakarta sendiri memiliki beberapa persoalan tentang budaya tersebut. Diantaranya kuatnya pengaruh peer culture diantara siswa, ini terlihat dari penggunaan bahasa atau perilaku yang negative (bullying, perilaku berpacaran yang tidak sehat) diantara mereka. Persoalan lain yang dihadapi adalah kemampuan baca tulis Al-Quran di SMP Negeri 280 yang masih rendah.

Beberapa acara TV, penggunaan HP yang tidak proporsiobal menjadi bagian yang menggerogoti siswa dari dalam. Dua hal tersebut relative tidak bisa dikontrol penuh oleh guru, bahkan termasuk orang tua. Karena kedua hal tersebut sudah masuk dalam wilayah private siswa. Selain itu tata pergaulan yang berkembang dimana pada usia sekolah peer culture menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan mental siswa.

Pada usia sekolah pengaruh teman sebaya/teman akrab sangatlah kuat dibanding pengaruh orang tua. Hal ini berkaitan dengan masa mencari identitas siswa secara psikologis dan keinginan untuk mendapat pengakuan dari lingkungan. Sehingga penerimaan nilai-nilai dari peer nya menjadi hal yang harus diimitasi oleh siswa bila ingin diterima dalam kelompok.

Jika diinventarisir, permasalahan Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 280 adalah sebagai berikut :

  1. Penggunaan bahasa dan perilaku yang tidak baik di kalangan siswa.
  2. Penggunaan HP yang tidak bisa dikontrol dari content negative
  3. Kemampuan baca tulis Al-Quran yang masih rendah

1.3. Strategi Pemecahan Masalah PAI di Sekolah

Untuk menanggulangi persoalan di atas, pihak sekolah menggunakan beberapa alternative. Diantaranya : melalui pembiasaan salaman, melalui tadarus, kultum sebelum pelajaran di mulai, pembacaan Asmaul Husna, PHBI, Diniyah Sekolah. Strategi tersebut tetap berbasis kepada komunitas. Yaitu kelompok atau group-group yang berkembang diantara siswa sendiri, termasuk guru.

1.3.1. Deskripsikan Strategi Pemecahan Masalah PAI di Sekolah

Sejak awal tahun sekolah khususnya bagian kurikulum telah mengagendakan sekaligus menganggarkan beberapa kegiatan. Hal ini berkaitan dengan tujuan sekolah untuk menciptakan suasana keagamaan yang kental di lingkungan SMP Negeri 280. Secara tetap, sekolah telah mengagendakan kegiatan pembiasaan melalui : 1) Kegiatan “salaman” setiap dating dan pulang sekolah, 2) Pembacaan tadarus selama 15 menit sebelum pelajaran di mulai, 3) Kultum 15 menit pada setiap hari Selasa olehg guru secara bergilir, 4) Pembacaan Asmaul Husna setiap hari Kamis, 5) Pengembangan Diniyah Sekolah untuk tuntas BTQ, 6) Shalat Dhuhur berjamaah

1.3.2. Tahapan Operasional Pelaksanaan

a. Untuk kegiatan “Salaman”, khususnya guru piket, kesiswaan dan guru PAI sebelum siswa datang sudah bersiap di depan gerbang untuk menyalami siswa.

b. Pembacaan tadarus dilakukan oleh siswa secara bergilir dan terjadwal.

c. Kultum 15 menit dilakukan oleh guru secara bergilir dan terjadwal.

d. Shalat Dhuhur berjamaah

e. Diniyah Sekolah/Tuntas Baca Tulis Al-Quran (TBTQ)

f. Pembacaan Asmaul Husna dilakukan oleh guru secara bergilir dan terjadwal.

Bab II : Pembahasan

2.1. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah

Pengembangan budaya beragama berbasis komunitas adalah pengelolaan kegiatan keagamaan yang mengajak dan dikelola secara bersama sekaligus memanfaatkan relasi-relasi yang ada di lingkungan sekolah. Sebagai contoh relasi sekolah dengan orangtua siswa, relasi dengan siswa dan termasuk dengan guru lain.

Pemilihan pengembangan budaya beragama di SMP Negeri 280 Jakarta yang berbasis komunitas ini dimaksudkan untuk memberdayakan potensi-potensi yang selama ini tidak tersentuh. Hal lain yang menjadi alasan adalah dengan menggandeng pihak-pihak terkait yang nota bene adalah stake holder SMP Negeri 280, maka program sekolah pada bidang keagamaan menjadi bisa berjalan dengan keterlibatan komunitas.

Pelibatan komunitas atau stake holder pendidikan di SMP Negeri 280 Jakarta sendiri dimaksudkan untuk mencari alternatife berbagai pemecahan masalah yang dihadapi oleh pihak sekolah dalam pengembangan keagamaan di sekolah. Pelibatan komunitas menjadikan program keagamaan bukan hanya milik sekolah tetapi menjadi tanggungjawab bersama dengan stakeholder.

2.2. Pengembangan Religious Culture di SMP Negeri 280.

2.3. Hasil atau Dampak Yang Dicapai dari Strategi Yang Dipilih

2.4. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Melaksanakan Strategi Yang Dipilih

2.5. Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan

2.6. Alternatif Pengembangan PAI

Bab III : Kesimpulan dan Rekomendasi

3.1. Kesimpulan

3.2. Rekomendasi Operasional


[1]Panduan Silabus PAI SMP Direktorat PSMP Depdiknas, 2007, 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: