Abu Maarik Mengelola Usaha Pengolahan Sampah

abu toto az zaytun

Abu Maarik ternyata menyetorkan dananya langsung ke kantor pusat Bank CIC, di Fatmawati, Jakarta Selatan. Seorang mantan karyawan Bank CIC mengatakan, Abu Maarik datang sekitar setengah atau sebulan sekali menyetorkan duitnya ke bank milik Robert Tantular itu.
Bila dia datang, para teller pusing, karena harus menghitung uang receh sampai ratusan juta rupiah. Saat itu tidak ada ratusan ribu, adanya pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu, Rp10 ribu, dan pecahan-pecahan kecil. “Uangnya semuanya kucel,” kata sumber VIVAnews.com, Selasa 3 April 2011.
Setiap kali datang, Abu Maarik menyetor hingga Rp200 juta. “Pada 1996, uang Rp200 juta sangat besar,” katanya.
Dia menceritakan, Abu Maarik yang beralamat di Indramayu ini hanya mau dilayani seorang manajer di bank itu. Selain manajer, hanya Robert Tantular. “Dua orang itu saja,” ujarnya.

Karena kantornya sempit, setiap kali Abu Maarik datang, selalu menjadi perhatian karyawan. Saat pembicaraan pun, sebagian karyawannya bisa mendengar.
Sumber ini menambahkan, karena penasaran dengan banyaknya uang yang disetor, dia sempat bertanya apa bisnis Abu Maarik. “Saya mengelola usaha pengolahan sampah,” kata dia menirukan Abu Maarik.
Di CIC, Abu Maarik menjadi nasabah kelas kakap dengan simpanan miliaran rupiah. Sehingga sejumlah layanan pun diberikan cuma-cuma. Abu Maarik bisa meminjam uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dengan jaminan uang simpanan itu. “Fasilitas kredit back to back ini tidak diberikan kepada setiap nasabah.”
Uang miliaran rupiah ini sebenarnya pernah tercium Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pada rapat dengar pendapat dengan Pansus Century Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua PPATK Yunus Huein mengatakan, ada simpanan sangat besar, yaitu Rp46,2 miliar milik Abu Maarik. Namun dia tak menjelaskan siapa Abu Maarik ini.
Ketua Tim Pengawas Kasus Bank Century di DPR Priyo Budi Santoso sempat mendesak pengusutan dana miliaran rupiah di Bank Century yang diduga milik jaringan Negara Islam Indonesia (NII). “Kami meminta dan mendesak aparat penegak hukum, termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera mengungkap dana itu,” kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 29 April 2011.
Imam Supriyanto, mantan “menteri” NII yakin nama Abu Maarik itu tak lain Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang, pemimpin Pesantren Al Zaytun, Haurgeulis, Idramayu, Jawa Barat. “Wajah Abu Maarik ini mirip sekali dengan Panji Gumilang yang saya lihat di televisi. Bedanya, dulu masih kurus.”
Abu Toto sendiri kepada wartawan tvOne Riga Danniswara, membantah bila dikaitkan dengan NII. Menurut Toto, perjuangan NII telah berakhir setelah Kartosoewiryo meninggal pada 5 September 1962. “Itu adalah fase turun gunung, semua kembali ke Ibu Pertiwi [pemerintahan Republik Indonesia],” ujar dia di kediaman pribadinya, di kompleks Mahad Al Zaytun,Jumat29April2011.
Sources:Vivanews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: