LAPORAN MONITORING DI SMPN 76 JAKARTA

smpn 76 jkt

1. OBSERVASI PEMBELAJARAN DI KELAS VIII

Selasa, 17 November 2009, saya sampai agak terlambat di sekolah ini karena sempat tersesat mencari lokasi. Ketika saya masuk, saya lihat murid-murid sudah berkelompok. Dari penataan duduk mereka, tampaknya ada 8 kelompok. Mereka terlihat berdiskusi dengan serius. Apa yang sedang mereka diskusikan?

Di papan tulis sudah terlihat tulisan berikut ini.

clip_image001

Guru terlihat berkeliling ke setiap kelompok membantu mengarahkan diskusi dalam kelompok dan menjawab pertanyaan-pertanyaan murid. Terjadi percakapan seperti ini, misalnya:

Guru : Coba pahami ayatnya dulu. Nanti kalian tulis di sini apa syarat puasa itu ya? Tulis saja dulu yang kalian pahami. Nanti bapak jelaskan lagi kalau semua sudah selesai.

Murid : Pak, ini benar tidak?

Guru : (Melihat catatan murid tersebut) Ya benar. Coba teruskan ke pertanyaan lainnya ya.

Tiba-tiba guru berjalan ke papan tulis dan menuliskan sesuatu di sana, menambahkan pada tulisan yang ada sebelumnya.

clip_image002

Kemudian, guru meminta murid meneruskan diskusi ke aspek yang terakhir dari yang tertulis di papan tulis, yaitu hal-hal yang diperbolehkan tidak puasa. Murid-murid meneruskan diskusi di kelompoknya masing-masing. Tampak sebagian anggota kelompok tidak terlibat dalam diskusi; ada yang asyik dengan pekerjaan mereka sendiri, ada yang hanya diam saja tidak memperhatikan, dan ada pula yang bercanda. Sementara itu, suara-suara kendaraan di jalan raya terdengar sampai ke kelas ini, cukup mengganggu.

Waktu diskusi habis. Guru kemudian berusaha menjelaskan hal-hal yang dia tulis di papan tulis. Dia mulai dengan bertanya, ”Apa dalil naqli puasa?” Murid-murid menjawab beramai-ramai, ”Albaqarah ayat 183!” Kemudian guru berpindah menjelaskan syarat puasa. Di sela-sela penjelasan ini, guru sempat bertanya, ”Orang di luar Islam boleh puasa tidak?” Murid menjawab serempak, ”Boleh!” Guru kemudian menambahkan, ”Ya, mereka juga punya puasanya sendiri.” [Saya mendengar ada seorang murid yang menyeletuk, ”Ya bolehlah, orang gila saja boleh.” Teman-teman di dekatnya tertawa—oberserver]. Guru tampaknya tidak mendengar celetukan tersebut dan terus saja menjelaskan. Tampaknya dengan menyinggung puasa dari umat beragama yang lain, si guru hendak memasukkan aspek multikultur dalam hal menghadirkan ”identitas yang lain, tapi sayangnya hanya sampai di situ, tidak dielaborasi lebih jauh. Lagipula rumusan pertanyaan si guru, yaitu ”Orang di luar Islam boleh puasa tidak?”, merupakan rumusan yang keliru karena menggunakan kata ”boleh” padahal seharusnya tidak perlu menggunakan kata itu. Akibatnya, hal itu memancing celetukan murid.

Guru lalu menjelaskan hukum puasa, yaitu berniat. Selanjutnya, dia menjelaskan aspek lain dari puasa, yaitu ”melihat bulan”. Guru agak panjang menjelaskan hal ini, bahkan dengan mengacu pada keputusan pemerintah. Dia juga menyinggung sedikit tentang perbedaan penentuan waktu puasa di antara orang-orang Islam. Topik tentang perbedaan tersebut seharusnya bisa jadi pintu masuk untuk membahas nilai multikultur, tapi guru tampaknya tidak menyadari hal ini sehingga dia tidak mengelaborasi topik tersebut. Guru kemudian melanjutkan penjelasan tentang hal-hal yang diperbolehkan tidak berpuasa. [Selama guru menjelaskan, suasana suara di kelas ini terus-menerus berisik, murid-murid terus saja bicara di antara mereka dan guru tidak menegur atau meminta perhatian murid-murid. Sempat sesekali guru meminta murid agar tidak berisik, tapi murid-murid hanya memperhatikan sebentar dan selanjutnya perlahan-lahan berisik kembali.]

Berikutnya, guru menjelaskan topik yang tidak dia tulis di papan tulis, yaitu apa yang dia sebut ”nilai-nilai kemanusiaan”. Dia kemudian menuliskan kata-kata ”nilai-nilai kemanusiaan” di papan tulis. Dia berkata, ”Betapa banyak orang yang berpuasa karena mereka memang tidak bisa makan. Mereka terpaksa puasa karena miskin. Banyak tidak orang seperti ini?” Murid-murid menjawab bersamaan, ”Banyaaak!”

Guru lantas meminta murid untuk mendiskusikan topik yang dia maksud tersebut dengan mengatakan, ”Nah, sekarang coba kalian diskusikan dampak sosial dari puasa selama 5 menit.” Murid-murid berdiskusi. Beberapa murid tampak bingung dan mengatakan pada guru bahwa mereka tidak mengerti apa yang harus mereka diskusikan. Guru kemudian menjelaskan dengan singkat pada mereka. [Penjelasan guru dan cara dia memberi arahan diskusi, saya kira, tidak jelas.—observer]. Kemudian, murid-murid mulai berdiskusi. Tampaknya mereka tetap bingung dan lebih banyak bercanda dan diam saja.

Waktu diskusi habis. Guru menanyakan hasilnya. Murid-murid tidak menjawab. Lantas, guru menuliskan saja kalimat berikut di papan tulis setelah terlebih dulu menghapus tulisan sebelumnya.

Dampak sosial dari puasa:

  1. meningkatkan kepekaan sosial.
  2. memberi bantuan.
  3. berbuka puasa dengan fakir miskin.
  4. memberi makan untuk orang yang puasa.
  5. memberi zakat.

Guru lebih banyak mendaftarkan sendiri hal-hal tentang dampak sosial tersebut. Meskipun murid-murid sesekali menambahkan daftar tersebut, tetapi guru menanggapinya dengan dingin saja. ”Oh, itu sama saja dengan yang nomor 3,” ujarnya sambil menunjuk ke daftar nomor 3 di papan tulis.

Guru kemudian meminta murid berdiskusi selama 5 menit tentang kelemahan dan kelebihan puasa. Setelah selesai, guru bertanya pada kelompok tertentu, tapi kelompok ini tidak bisa menjawab. Kelompok lain kemudian bisa menjawab. Tanya-jawab kemudian berlangsung dengan tidak teratur dan tidak jelas karena terganggu oleh suara murid-murid yang berisik.

Guru kemudian meminta murid untuk menjawab soal-soal yang dia tuliskan di papang tulis. Soal tersebut adalah:

  1. Jelaskan pengertian puasa secara istilah!
  2. Sebutkan hukum puasa!
  3. Sebutkan dua hal yang membatalkan puasa!
  4. Sebutkan tiga macam puasa wajib!
  5. Jelaskan peran social puasa!

Murid-murid menyalin soal tersebut di buku masing-masing. Saat inilah baru terasa keheningan di kelas ini. Guru duduk menunggu di kursinya di depan kelas. Murid-murid menjawab soal. Setelah beberapa menit kemudian, guru mengatakan, “Jika ada yang sudah selesai, silakan dikumpulkan.” Ada beberapa murid yang sudah selesai dan mulai mengumpulkan tugasnya di meja guru. Yang lain menyusul mengumpulkan.

Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, memperdengarkan instrumen lagu Barat yang biasa digunakan untuk mainan anak-anak. Kelas berakhir dan ditutup oleh guru dengan mengucapkan salam.

2. WAWANCARA DENGAN GURU

Wawancara dilakukan dua kali. Wawancara pertama dilakukan dengan guru yang pembelajarannya telah diobservasi di atas, sedangkan wawancara kedua dilakukan dengan beberapa guru dari beberapa sekolah di Jakarta. Dalam wawancara pertama diperoleh informasi sebagai berikut.

Pertama-tama, pewawancara (observer) memberikan komentar tentang proses pengajaran yang sudah dilakukan guru tersebut secara umum, yaitu bahwa topik pembelajaran yang dipilih guru tidak dihubungkan dengan aspek pendidikan multikultur secara sistematis meskipun sebenarnya terdapat potensi dari topik tersebut untuk dilihat secara khusus aspek multikulturalnya, misalnya puasa yang dilakukan oleh umat beragama lain dan perbedaan penentuan waktu puasa di antara umat Islam sendiri. Guru menyatakan bahwa dia juga menyadari potensi tersebut, tetapi agak bingung bagaimana harus membahasnya dan membuat aktifitas pembelajarannya di kelas sehingga dia tidak berani mengembangkannya lebih lanjut di kelas, hanya menyebutnya secara selintas.

Selanjutnya, wawancara beralih membicarakan persoalan atmosfer mulitikultur di SMP 76 ini. Menurut guru yang bersangkutan, beberapa tahun belakangan sekolah ini termasuk sekolah yang terkena pengaruh pandangan keagamaan (Islam) yang eksklusif dari kelompok tertentu. Mereka mempengaruhi murid-murid dan guru-guru di sini melalui kegiatan ekstrakurikuler. Mulanya berlangsung melalui kerja sama alumni SMP ini dengan pihak sekolah, kemudian berkembang menjadi cukup besar dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dan sudah mengarah pada masuknya kepentingan partai politik tertentu [PKS dalam hal ini]. Menurut guru ini, kelompok alumni yang kebanyakan adalah para mahasiswa itu tidak bisa diajak berdiskusi dengan baik karena sulit menerima perbedaan pendapat dalam masalah agama. Meskipun beberapa guru di sekolah ini mulai mengkhawatirkan perkembangan tersebut, tetapi tidak ada tindakan apa-apa yang diambil. Sampai akhirnya kepala sekolah menugaskan guru Agama Islam (yaitu guru yang diwawancarai ini) untuk mengambil alih kegiatan ekstrakurikuler keagamaan tersebut. Menurut guru ini, mulanya dia mendapat tentangan dari para alumni dan beberapa guru yang berpihak pada kelompok alumni tersebut. Tapi, lama-kelamaan para almuni itu mundur juga dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini.

Setelah guru ini selesai bercerita tentang hal tersebut, saya mencoba meminta komentarnya tentang beberapa hal yang saya lihat di sekolah ini maupun di dalam kelas, seperti dinding kelas yang tidak ditempeli gambar-gambar yang menyimbolkan gagasan nasionalisme. Bahkan, saya lihat di dinding belakang kelas ada dua rak gantung yang memuat kitan Al-Qur’an di atasnya, satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri, lantas ada almanak di dinding kanan dan jam dinding. Selebihnya ada beberapa bingkai kelihatannya berisi informasi barang inventaris. Terhadap itu semua saya meminta komentar guru tersebut. Dia menyatakan bahwa simbol-simbol nasionalisme itu memang tidak terlalu dipertimbangkan lagi untuk ditempel di dinding kelas. Bahkan, dia juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan papan di depan sekolah yang mencantumkan tulisan ”bismillah” karena, menurutnya, sekolah ini adalah sekolah negeri yang diperuntukkan bagi semua murid dari berbagai agama, tidak khusus untuk murid Muslim saja. Tapi, dia sendiri belum punya cara bagaimana sebaiknya mengatakan ketidaksetujuan tersebut kepada kepala sekolah karena, menurutnya, hal ini cukup sensitif.

Wawancara kedua dilakukan dengan 4 orang guru, yaitu Marbawi (SMPN 280), Ahmad Zaki (SMPN 76), Endo Suhendi (SMP 11 Tangerang Selatan), Abdul Rahman (SMA MHT), ditambah dengan dua orang wakil dari Rahima. Dalam wawancara kedua ini diperoleh informasi sebagai berikut.

Pembicaraan dimulai dengan bertukar pengalaman tentang penerapan perspektif pendidikan multikultur di kelas masing-masing. Sebagian guru mengangkat pengalaman mereka dalam memilih topik tertentu dalam pelajaran Agama Islam yang dihubungkan dengan nilai multikultur, seperti topik tasamuh, zuhud, tawakal, dan puasa. Sebagian guru memang masih merasa sulit menghubungkan topik-topik tersebut dengan nilai multikultur, tapi sebagian lagi sudah memahami hubungannya. Kesalahpahamannya adalah bahwa nilai-nilai multikultur bagi sebagian guru masih dilihat dalam kepentingan internal umat Islam sehingga mereka menganggap bahwa sikap zuhud dan tawakal, misalnya, sudah mencerminkan nilai mutlikultur. Padahal, yang dimaksud dengan pengintegrasian nilai multikultur dalam konteks ini adalah bagaimana kontak dengan orang yang identitasnya berbeda dapat dilakukan dengan baik melalui pembahasan tentang topik tersebut.

Salah satu guru kemudian memberikan contoh yang cukup tepat dalam pengintegrasian tersebut. Menurutnya, dalam pembahasan tentang topik tasamuh (toleransi), misalnya, guru bisa menghadirkan narasumber murid yang beragama berbeda dan dirancang suatu kegiatan belajar yang bisa mendorong saling pengertian atau kerja sama di antara murid-murid. Selain itu, dalam pembahasan tentang topik lain, seperti kasih sayang dengan sesama manusia, dapat diangkat fenomena bullying. Murid bisa diberi tugas mengumpulkan kliping tentang fenomena tersebut dan bersama-sama membuat kampanye anti-bullying, misalnya. Menurutnya, guru juga bisa memanfaatkan media film yang menayangkan orang-orang yang mengalami penderitaan atau kemiskinan. Tayangan semacam ini dirancang dalam pembelajaran untuk mendorong sikap kepedulian sosial kepada sesama umat manusia, apapun identitas sosialnya.

Guru yang lain memberikan contoh yang saya kira juga tepat dalam mengintegrasikan nilai multikultur dalam pembelajaran Agama Islam. Dia mengambil topik puasa. Menurutnya, puasa selama ini cenderung dijelaskan untuk umat Islam sendiri untuk kepentingan ibadah spritual, tapi kurang ditonjolkan aspek sosial dari puasa. Karena itu, dia ingin mendorong aspek sosial tersebut dalam pembelajaran tentang puasa sehingga kepedulian pada kaum miskin, misalnya, perlu ditekankan. Tapi, dengan metode pembelajaran yang tidak melulu berceramah, tetapi lebih hidup melalui diskusi atau dengan menghadirkan orang-orang miskin itu sendiri melalui bantuan media foto, film, dan sebagainya.

Dengan contoh-contoh yang mereka kemukakan tersebut, para guru kemudian sependapat bahwa pengintegrasian pendidikan multikultur seharusnya dilakukan dalam aspek mu’amalat atau hubungan kemasyarakatan saja, bukan dalam aspek aqidah dari agama yang dianut. Pendapat ini mereka tekankan untuk menghindari kesalahpahaman yang kelihatannya masih ada di kalangan guru-guru bahwa pendidikan multikultur akan melunturkan iman para murid. Kesalahpahaman ini sebenarnya tidak perlu ada karena pendidikan multikultur memang tidak mengurusi iman seseorang, tetapi dimaksudkan untuk mendorong pergaulan sosial yang lebih setara, adil, dan harmonis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: