MINIMNYA KAJIAN TENTANG ULAMA PEREMPUAN

rahima

Studi tentang Islam dan gender sudah banyak dilakukan oleh para sarjana, peneliti, dan akademisi, baik yang berasal dari dunia Islam ataupun dari Barat. Di Indonesia sendiri selama kurang lebih 15 tahun terakhir, berbagai forum diskusi, konferensi, seminar, buku, jurnal, dan film yang membahas tentang Islam dan gender tumbuh subur dan membanjiri ruang-ruang publik. Akan tetapi, kajian khusus tentang “ulama perempuan” bisa dikatakan sangat jarang. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan kaum perempuan di bidang keilmuan dan keulamaan masih menjadi isu yang belum banyak mendapat perhatian oleh banyak peneliti. Kenyataan ini tentunya bukan tanpa sebab, mengingat asumsi umum yang banyak dipegang oleh para sarjana adalah bahwa perempuan tidak memiliki peran signifikan di dalam dunia keulamaan atau bahkan dibidang keilmuan lainnya. Apakah asumsi tersebut memang benar? Mengapa sejarah ulama perempuan masih terkesan gelap? Bagaimana sesungguhnya eksistensi ulama perempuan di dalam sejarah Islam dari dulu hingga sekarang? Apa peran dan kontribusi para ulama perempuan selama ini?

Adanya kesan umum bahwa sosok ulama perempuan tidak terdokumentasikan dengan baik di dalam sejarah Islam, sehingga tidak banyak yang kita ketahui tentang subjek ini. Namun, kesan semacam ini nampaknya perlu ditinjau kembali. Berdasarkan penelitian Azyumardi Azra, saat ini menjabat sebagai direktur sekolah pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa diantara kamus biografi yang hampir tak terhitung itu, terdapat jilid khusus tentang tokoh-tokoh perempuan yang ahli dan terkenal dalam pelbagai bidang kehidupan. Untuk periode awal sejarah Islam kamus biografi karya Ibn Sa’ad (Kitab al-Thabaqat) dan Ibn Asakir (Tarikh Madinat Dimasyq), misalnya terdapat jilid khusus tentang perempuan. Kemudian sejarawan al-Khatib al-Baghdadi, dalam kamus biografinya berjudul Tarikh Baghdad juga memuat biografi sejumlah perempuan. Sejarawan al-Sakhawi yang menulis beberapa kamus biografi tokoh-tokoh abad 15, khususnya al-Daw al-Lami’, yang juga menulis khusus tentang perempuan, yang diberi judul, Kitab al-Nisa’. Dalam kitab terakhir ini diberikan biografi 1075 perempuan, 411 orang diantara mereka mempunyai pendidikan agama yang cukup tinggi, walaupun masih terlalu awal untuk menyatakan bahwa mereka adalah ulama. Sayangnya, kitab-kitab kamus biografi ini belum diteliti oleh para peminat dan peneliti studi perempuan. Akibatnya pengetahuan kita tentang ulama perempuan masih sangat terbatas.

Posisi marginal perempuan didalam kamus biografi ulama menandakan bahwa tradisi keulamaan dan keilmuan di dalam Islam selama ini masih didominasi oleh laki-laki. Realitas ini dapat dipahami mengingat peradaban patriarkhi yang kental didalam masyarakat Muslim menempatkan perempuan lebih banyak diurusan-urusan privat dan domestik. Sebaliknya, ranah publik seolah-olah hanya menjadi priviledge laki-laki. Dunia pendidikan merupakan bagian dari ranah publik dimana kultur masyarakat Muslim biasanya lebih mendahulukan laki-laki ketimbang perempuan untuk masuk ke sekolah-sekolah formal. Meskipun di dalam haditsnNabi SAW disebutkan “thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin” (kewajiban menuntut ilmu berlaku bagi laki-laki dan perempuan), tetapi prakteknya di masyarakat, akses untuk menimba ilmu pengetahuan antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Dengan kata lain, perempuan seringkali tidak diberikan hak dan bekal yang sama untuk mengkaji materi ilmu keIslaman yang akan menghantarkan mereka untuk menjadi ulama.

Referensi : Swara Rahima No.34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: