TIDAK ADA YANG TAHU BAHWA DIA ITU WALI KECUALI DENGAN WALI

WALI

Siapa wali itu ? bagaimana mengetahui wali itu ? mereka tidak mengetahuinya kecuali diberitahu Allah, dan tidak ada yag mengetahui Allah kecuali orang yang mengetahui Allah, dan tidak ada yang tahu  mengetahui Allah kecuali orang yg telah tahu Allah juga.

Sayyidina  Ali berkata : maka aku tidak mengetahui Tuhan apabila Allah tidak mendidikku dan ini adalah pendidik batin yang tidak aku berhasil kecuali dengan sebab pendidikan oleh pendidik dhohir, dan pendidik dhohir yaitu dengan ditalkin oleh Syekh Mursyid  yakni Wali Mursyid yang dibutuhkan dan tidak mencari kecuali Allah, dan orang yang di Talkin, diberi petunjuk dengan cara Talkin  Laailaahaillallah. Dan tidak ditalkin kecuali talkin Laailaahaillallah seperti Rosulullah menalkin kalimah Tayyibah ini kepada para sahabat.

Syekhuna Al- Mukarom Sayyidi Syekh Sohibul Wafa Tajul ‘Arifin menalkin kita dengannya bahkan sampai akhir zaman, tak ada talkin orang yang menalkin kecuali dengan Laailaahaillallah, karena Lailaahaillallah adalah paling utama dari keutamaan bunyi dzikir  yang dipilih oleh kaum yang dimaksud kaum adalah mereka Wali Allah dan tak ada yang memilihnya kecuali orang yang khusu kepadanya.talqin Rasullulah bersabda:

امرت ان اقاتل الناس حتى يقولوا لا اله الا الله.

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata Laailaahaillallah”

dan nabi bersabda dalam doa setelah talqin:

اللهم انك بعثتنى بهاذه الكلمة وامرتنى بها ووعدتنى عليها الجنة وانك لا تختلف الميعاد .

”Ya Allah, engkau telah mengutusku atas Laailaahaillallah dengan surga dan sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji”

 

dan Rasulullah bersabda :

الا أبشروا فان الله قد غفورلكم.

“ berilah kabar gembira oleh kamu sekalian, karena Allah telah memaafkan kamu”.

Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib r.a berkata  Muhammad adalah manusia yang paling tahu kepada Allah, mereka sangat mencintai, Allah mengagungkan ahli Laailaahaillallah, karena ahli Laailahaillalah adalah ahli Allah dan ahli Lailaahaillallah adalah nama Allah yang pertama. Maka barang siapa bersahaya Laailaahaillalah pasti dia berserta Allah , tidak memisahkan namanya,seperti berlaku pada sebagian  Hawatif Rubaniah  Allah berfirman :

اذا لم ترنى فالزم اسمي فان اسمي لا يفارقني.

“maka kalau kau tidak melihatku maka tetapkanlah namaku  karena namaku tidak pernah berpisah dengan Aku.  ( Kitab Mizan Kubro, h : 135 ).

 

Barang siapa bersama Allah dia adalah hamba yang diberi Rahmat oleh Allah dan diajarkannya dengan  Ilmu, tidak ada dia kecuali  Wali Allah .Dia sibuk mengingat kepada Allah dan lari kepada Allah., dan tidak mencintai kecuali Allah, tidak berdiri, duduk, dan berbaring kecuali dengan Dzikir kepada Allah dan setiap ucapannya mempunyai arti  “kembali untuk memenuhi”, Al-Hafid Jalaludin Abdurrahman  Al-Suyuti dalam Syarah  Jauhar Maknun  berkata :

والفعل والحرف كحال الصوفي  #   ينطق انه المنيب الموفى

“kalimat fi’il dan haraf bagaikan seorang shufi   – 

  bahwasannya orang shufi berkata seolah-olah telah kembali dan mati”

Seperti Arif billah  Sayyid Abdurahman Al-Khudhuri Rohimakumullah  ta’ala  menyebutkan bahwa Majaz yang dimaksud pada syi’ir ini  adalah  majaz isti’ariyah tiba’iyah fi’liyah yaitu sesuatu yang berlaku pada kalimat fi’il, yaitu segala keadaan orang sufi adalah benar, yang dimaksud  Tasauf orang sufi adalah  bersih  hatinya dari selain Allah maka apabila orang sufi berbicara (yanthiqu bima’na yadullu) keadaannya (menunjukkan) seperti telah kembali yakni orang yang kembali kepada Allah dalam segala apapun yaitu dengan hati .

Yang dimaksud kembali kepada Allah dengan hatinya, yaitu dengan cara membiasakan dzikir kepada Allah baik dzikir Sirri maupun dzikir Jahar. Tidak dengan kakinya . Hal itu ditunjukan oleh Rosulullah saw  kepada Sahabat baik secara jama’ah maupun secara perorangan , maka apabila bersih hatinya dari sesuatu selain Allah dan mesti mencintainya. Allah bersamanya , dan mencintainya  hingga Allah berfirman “ maka apabila Aku mencintainya pasti Aku jadi pendengarnya ,dimana dia mendengarkannya dan menjadi penglihatanna dimana dia melihatnya, dan menjadi tangannya dimana dia bertindak dengan tangannya, dan menjadi kakinya, didunia dia berjalan, dan apabila dia meminta kepada-Ku Aku memberinya, dan apabila meminta perlindungan maka Aku melindunginya.

Adapun yang dimaksud Allah memberi kuasa orang yang dicintainya pada semua keadaannya,  baik  gerakannya dan diamnya selalu beserta Allah swt. Hal itu bagaikan anak kecil yang dicintai orang tuanya karena kecintaannya menguasai terhadap segala keadaannya.

Maka anak itu tidak makan kecuali dengan tangan salah satu dari kedua orang tuanya, dan tidak berjalan kecuali dengan kakinya dll.

Maka tidak hanya sekali Syekh Sayyid Arifbillah untuk berkunjung kekuburan wali songo untuk memulyakan mereka, karena mereka adalah Sulton Aulia dimasa Syekh Abdul qadir jaelani q.s.  dan  mudah-mudahan Allah meluaskannya, dengan dipanjangkan umurnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: