IRONI

RUYATI OH RUYATI... IRONI... LUCU... KESEL...
MENINGGALKAN NEGERI MENCARI SESUAP NASI, BERAKHIR EKSEKUSI

Ironi, lucu dan kesel, mengikuti berita-berita tentang nasib seorang TKI bernama Ruyati yang meninggal karena eksekusi di Arab Saudi. Semua perasaan itu menjadi satu, diudek-udek seperti uleg Betawi.

Ironi karena seorang warga negara RI harus berakhir tragis di luar negeri. Ironi karena seorang wanita harus meninggalkan suami dan keluarganya di sini. Ironi karena seorang wanita yang seharusnya dilindungi dibiarkan berkelana ke jauh batas negeri. Ironi karena seorang wanita yang seyogyanya dinafkahi, harus mencari nafkah karena kondisi. 

Ironi karena melihat Negeri Saudi yang kaku menjalankan hukum eksekusi. Ironi karena blowup berita ini, menjadikan salah satu dari hukum Islam (hudud) begitu terkesan ngeri. Ironi karena keadilan yang didapatkan satu keluarga Saudi, menyebabkan 1.000 kutukan di seluruh negeri. Ironi karena mungkin hukum Islam dimaki-maki, walaupun di dalam hati. Ironi, kenapa Arab Saudi tidak memperhitungkan efek ‘negatif’ di dunia global atas reaksi eksekusi. Islam memang memperkenalkan hukum hudud, tapi juga sangat tidak menyukai penganiayaan dan kekerasan terhadap TKI. Ironi karena hukum di Arab Saudi terkesan ingin menang sendiri.

Ironi... ironi... ironi...!

Ironi tapi lucu! Lucu karena para petinggi negeri ini ketinggalan informasi. Lucu karena menlu kita justeru baru tahu setelah Ruyati dieksekusi. Lucu kok hal ini bisa terjadi. Lucu... ngapain saja para petinggi negeri selama ini... hi.. hi.. hi..

Ironi... lucu... dan sekaligus kesel! Kesel karena negeri yang hijau ini, seakan bukan tempat hidup bagi banyak sekali anak-anak negeri. Kesel karena negeri ini, kok malah jadi surga bagi bangsa lain dan sekaligus berangsur menjadi neraka bagi warganya sendiri. Kesel karena perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini, kini diinjak-injak oleh putra-putri ‘terbaik’ negeri.

Kesel karena kekayaan alam yang seharusnya bisa dinikmati anak-anak negeri, malah dirampas pemodal-pemodal luar negeri. Kesel karena kebijakan pemerintah seringkali merebut hak-hak bangsa sendiri. Kesel karena kesejahteraan yang dijanjikan, semakin jauh panggang dari api. Kesel karena keadilan sosial, hanya menjadi kesialan seiring dengan perjalanan hari. Kesel karena cita-cita sebuah masyarakat negeri, tak kunjung bisa direalisasi.

Kesel karena pemerintah gagal memberikan ‘makan’ bagi rakyatnya sendiri. Kesel karena 3 juta rakyat yang harus mengais rezeki di luar negeri. Kesel karena 78%  dari mereka yang mengais rezeki di negeri orang itu adalah wanita yang seharusnya disayangi. Kesel karena banyak anak-anak yang terpaksa kehilangan kehangatan ibundanya yang pergi ke negeri mimpi. Kesel karena ternyata 76% yang keluar negeri hanya menjadi pembantu rumah tangga yang nota bene miskin kualiti. Kesel karena amanat ‘bangunlah jiwanya’ sebelum ‘bangunlah badannya’ dalam lagu kebangsaan, ternyata hanya jadi nyanyian di Senin pagi.

Kesel karena terbunuhnya Ruyati memiliki hubungan erat dengan kemiskinan yang kini tengah terjadi. Kesel karena pemerintah menurunkan standar miskin dari penghasilan 2 dolar menjadi 1 dolar sehari, agar kelihatan berkurang angka orang-orang miskin negeri ini. Kesel karena geliat usaha kecil anak-anak negeri seakan sengaja dibiarkan dibunuhi. Kesel karena pemerintah membiarkan para pemodal besar menginjak-injak hukum yang hanya menyuburkan kolusi. Kesel karena usaha-usaha pribumi yang seharusnya dilindungi, malah dibongkari.

Kesel karena cita-cita rakyat makmur malah menjadi mahmur, tinggal rumah ama sumur yang dimiliki. Kesel karena betapa banyak rakyat yang ngontrak di ruang sempit, perkampungannya kumuh, bahkan tinggal dipinggir-pinggir kali, sementara orang-orang kaya lewat tivi asik membicarakan investasi. Kesel karena seakan rakyat negeri numpang di negeri sendiri...

Kita berharap kasus Ruyati ini menjadi tragedi yang terakhir kali. Tapi apa mungkin harapan ini terjadi, sementara para petinggi asik dengan korupsi untuk memperkaya diri? Sudah saatnya dalam memilih pemimpin rakyat harus jeli. Pemimpin yang mampu menggerakkan 10 juta dari 200 juta rakyatnya untuk mengelola bumi dan air dan kekayaan alam bumi sendiri. Bukankah Undang-Undang Dasar ’45 menyatakan : “Bumi dan air dan kekayayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Jika pemerintah menjalankan amanat ini, kasus Ruyati mungkin tidak terjadi.

Jakarta, 20 Juni 2011

Makmoen Al Jawawie
20 Juni 22:45

RUYATI OH RUYATI… IRONI… LUCU… KESEL…
MENINGGALKAN NEGERI MENCARI SESUAP NASI, BERAKHIR EKSEKUSI
Ironi, lucu dan kesel, mengikuti berita-berita tentang nasib seorang TKI bernama Ruyati yang meninggal karena eksekusi di Arab Saudi. Semua perasaan itu menjadi satu, diudek-udek seperti uleg Betawi.
Ironi karena seorang warga negara RI harus berakhir tragis di luar negeri. Ironi karena seorang wanita harus meninggalkan suami dan keluarganya di sini. Ironi karena seorang wanita yang seharusnya dilindungi dibiarkan berkelana ke jauh batas negeri. Ironi karena seorang wanita yang seyogyanya dinafkahi, harus mencari nafkah karena kondisi.
Ironi karena melihat Negeri Saudi yang kaku menjalankan hukum eksekusi. Ironi karena blowup berita ini, menjadikan salah satu dari hukum Islam (hudud) begitu terkesan ngeri. Ironi karena keadilan yang didapatkan satu keluarga Saudi, menyebabkan 1.000 kutukan di seluruh negeri. Ironi karena mungkin hukum Islam dimaki-maki, walaupun di dalam hati. Ironi, kenapa Arab Saudi tidak memperhitungkan efek ‘negatif’ di dunia global atas reaksi eksekusi. Islam memang memperkenalkan hukum hudud, tapi juga sangat tidak menyukai penganiayaan dan kekerasan terhadap TKI. Ironi karena hukum di Arab Saudi terkesan ingin menang sendiri.
Ironi… ironi… ironi…!
Ironi tapi lucu! Lucu karena para petinggi negeri ini ketinggalan informasi. Lucu karena menlu kita justeru baru tahu setelah Ruyati dieksekusi. Lucu kok hal ini bisa terjadi. Lucu… ngapain saja para petinggi negeri selama ini… hi.. hi.. hi..
Ironi… lucu… dan sekaligus kesel! Kesel karena negeri yang hijau ini, seakan bukan tempat hidup bagi banyak sekali anak-anak negeri. Kesel karena negeri ini, kok malah jadi surga bagi bangsa lain dan sekaligus berangsur menjadi neraka bagi warganya sendiri. Kesel karena perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini, kini diinjak-injak oleh putra-putri ‘terbaik’ negeri.
Kesel karena kekayaan alam yang seharusnya bisa dinikmati anak-anak negeri, malah dirampas pemodal-pemodal luar negeri. Kesel karena kebijakan pemerintah seringkali merebut hak-hak bangsa sendiri. Kesel karena kesejahteraan yang dijanjikan, semakin jauh panggang dari api. Kesel karena keadilan sosial, hanya menjadi kesialan seiring dengan perjalanan hari. Kesel karena cita-cita sebuah masyarakat negeri, tak kunjung bisa direalisasi.
Kesel karena pemerintah gagal memberikan ‘makan’ bagi rakyatnya sendiri. Kesel karena 3 juta rakyat yang harus mengais rezeki di luar negeri. Kesel karena 78% dari mereka yang mengais rezeki di negeri orang itu adalah wanita yang seharusnya disayangi. Kesel karena banyak anak-anak yang terpaksa kehilangan kehangatan ibundanya yang pergi ke negeri mimpi. Kesel karena ternyata 76% yang keluar negeri hanya menjadi pembantu rumah tangga yang nota bene miskin kualiti. Kesel karena amanat ‘bangunlah jiwanya’ sebelum ‘bangunlah badannya’ dalam lagu kebangsaan, ternyata hanya jadi nyanyian di Senin pagi.
Kesel karena terbunuhnya Ruyati memiliki hubungan erat dengan kemiskinan yang kini tengah terjadi. Kesel karena pemerintah menurunkan standar miskin dari penghasilan 2 dolar menjadi 1 dolar sehari, agar kelihatan berkurang angka orang-orang miskin negeri ini. Kesel karena geliat usaha kecil anak-anak negeri seakan sengaja dibiarkan dibunuhi. Kesel karena pemerintah membiarkan para pemodal besar menginjak-injak hukum yang hanya menyuburkan kolusi. Kesel karena usaha-usaha pribumi yang seharusnya dilindungi, malah dibongkari.
Kesel karena cita-cita rakyat makmur malah menjadi mahmur, tinggal rumah ama sumur yang dimiliki. Kesel karena betapa banyak rakyat yang ngontrak di ruang sempit, perkampungannya kumuh, bahkan tinggal dipinggir-pinggir kali, sementara orang-orang kaya lewat tivi asik membicarakan investasi. Kesel karena seakan rakyat negeri numpang di negeri sendiri…
Kita berharap kasus Ruyati ini menjadi tragedi yang terakhir kali. Tapi apa mungkin harapan ini terjadi, sementara para petinggi asik dengan korupsi untuk memperkaya diri? Sudah saatnya dalam memilih pemimpin rakyat harus jeli. Pemimpin yang mampu menggerakkan 10 juta dari 200 juta rakyatnya untuk mengelola bumi dan air dan kekayaan alam bumi sendiri. Bukankah Undang-Undang Dasar ’45 menyatakan : “Bumi dan air dan kekayayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Jika pemerintah menjalankan amanat ini, kasus Ruyati mungkin tidak terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: