SEMINAR HASIL PENELITIAN SARANA & PRASARANA PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH (SURVEY PERPUSTAKAAN PAI DI SMA)

Perpus PAI Pada Sekolah

 

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI 2012

Bogor, 13 S.d 15 november 2012

Hari Pertama Selasa, 13 November 2012

Pukul : 20.00 s.d 21.00 WIB

Acara : Pembukaan dibawakan langsung oleh Kepala Bidang3

Acara dibuka dengan membaca hamdalah dan dibuka langsung oleh Kapus Litbang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada sekolah Bp Prof.H.Abd Rahman Mas’ud, Ph.D, isinya tentang Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2005 tentang Maktab atau Kuttab (Bhs Arab), Library (Bhs Inggris) kesimpulannya bahwa ketersediaan pada buku, alat, sarana dan prasarana PAI di sekolah masih kurang. Pena (qolam) sebagai lambang kemajuan. Peserta yang hadir ada dari unsur guru, pengawas, peneliti , pustakawan dll. Materi diberikan langsung dari Dit PAIS, Pustakawan Nasional dan Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah (ATPUSI).

Bahwa minat baca Indonesia sangat memperihatinkan seperti yang diberitakan koran Kompas kemaren. Di lapangan sungguh menyedihkan buku agama tidak menarik buat guru & siswa, beda dengan buku-buku umum bagaikan makhluk aneh dikalangan guru-guru dan siswa/i madrasah di Muktamar . Pengenalan insklopedi Al-Qur’an karena ini lebih luas daripada kamus.

Pembacaan secara teknis kegiatan 3 hari ke depan disampaikan oleh Dr. Hayadin berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Dikarenakan perjalanan cukup melelahkan maka acara selanjutnya adalah istirahat.

Hari Kedua Rabu, 14 November 2012

Pukul : 08.00 s.d 09.30 WIB

Materi I : Kebijakan dan Program Pemerintah dalam menyediakan sarana-prasarana pembelajaran Agama di sekolah.

Oleh : Dr.H.Amin Khaedar (Direkstur PAIS)

Materi dibagi dua bahwa beliau mengapresiasi hasil survey perpustakaan PAI di SMA & Kebijakan Kementerian Agama. Menurut para tokoh pendidikan agama merekomendasikan agar merombak buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang beredar saat ini adalah expaid knowledge (ilmu jadul). Hari ini Direktur PAIS mengumpulkan para kepala sekolah yang akan di beri plang “Bebas Buta Huruf Baca Al-Qur’an di sekolah” ambisius beliau meningkatkan kualitas keagamaan di sekolah melebihi di madrasah. Ketika berbicara masalah karakter bangsa ya harus disediakan banyak buku-buku tentang akhlak. Ada 600 MGMP PAI yang sudah dibantu, ada 7.300 orang GPAI yang ditingkatkan jenjang pendidikannya begitu juga Para pengawas PAI. Keputusan Dirjen untuk penambahan jam GPAI di sekolah melalui ekskul. Untuk kesuksesan ruang gerak GPAI di sekolah ya harus kepala sekolah diundang untuk didekati supaya nyambung program-program PAI yang ada di sekolah.

Materi II : Seminar Hasil Penelitian Survey Perpustakaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Pukul : 10.00 s.d 12.00 WIB

Oleh : Dr. Hayadin, M.Pd (Panpel)

Pembacaan makalah melalui power point tentang Sarana dan Prasarana (Permenag Nomor 211 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Standar Nasional Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah) seminar Hasil Penelitian Survey Perpustakaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Di 49 sekolah pada 24 provinsi dari bulan Maret s.d Agustus 2012 ruangan ukuran 6 x 7 meter untuk Perpustakaan PAI.

Materi III : Peran Strategis Perpustakaan Dalam Mendukung Kualitas Pembelajaran di Sekolah

Pukul : 15.20 s.d 16.45 WIB

Oleh : Dr. H. Gardjito, M.Sc (Kapusdiklat Perpusnas RI)

Pemberdayaan Perpustakaan sekolah melalui siswa cerdas berimajinasi dengan hal-hal yang baru. Perpus sekolah merupakan 1). wahana sumber belajar

2). sebagai sarana untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran

3). Sebagai laboratorium

Tenaga Pustakawan sekolah sebagian besar adalah guru yang kekurangan jam pelajaran. Dan tenaga perpustakaan kebanyakan berstatus kepegawaiannya adalah tenaga honorer.

Untuk sekolah harus mengalokasikan dana paling sedikit 5% UU No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal (6).

Materi IV : Upaya Peningkatan Kompetensi Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Melalui Program Literasi Informasi

Pukul : 17.00 s.d 18.00 WIB

Oleh : Indah Kurnianingsih, SIP, MP (ATPUSI)

Perpustakaan Indonesia gagal menumbuhkan budaya membaca masyarakat. Mengapa ?

  1. Tidak tersedianya buku bacaan karena rendahnya jumlah perpustakaan di Indonesia dan rendahnya jumlah buku
  2. Kurangnya SDM di bidang perpustakaan
  3. Perpustakaan Tidak pernah menjadi bagian penting

Program Literasi Informasi adalah sebuah keterampilan mencari informasi & bisa mencari informasi dengan ICT / internet. Literasi Informasilah yang memfilter/ mengevaluasi berjuta-juta informasi yang ada di internet. Insklopedi itu disusun berdasarkan alpabet. Layanan Prima yaitu bisa berkeliling menawarkan bantuan, promosi pada buku-buku terbaru, pin yang mengundang pertanyaan, ramah (bisa senyum 24 jam), menanyakan detail kebutuhan informasi, mencari alternatif pilihan, tidak GATEK, terbiasa menggunakan IT, mengupdate informasi terbaru, berfikir kreatif dan solutif, memahami Bahasa Inggris. Solusi minat baca yang masih rendah yaitu koleksi rekreatif, wish list (daftar keinginan buku baru), menunjang kurikulum, reward dengan adanya lomba-lomba membuat resensi buku. Program D.E.A.R yang ada di sekolah Madaniah para siswa diwajibkan membaca 10 menit setiap minggunya. Peran ATPUSI(Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah) adalah mengadvokasi para pustakawan, mensertifikasi para pustakawan sesuai dengan Permendiknas No.25 Tahun 2008. Kolaborasi Pustakawan dan Guru Pendidikan Agama Islam contohnya Siroh Nabawiyah dgn 100 tokoh di dunia, pemanfaatan multimedia Film mengaku Rasul sesat/ Emak Ingin Naik Haji.

Materi V : Diskusi Pendalaman Rekomendasi Penelitian

Pukul : 20.00 s.d 21.45 WIB

Oleh : Dr. Hayadin, M.Pd

  1. Penegasan definisi dan bentuk perpustakaan PAI dalam konteks kebijakan pemerintah (cq. Kementerian Agama). Apakah perpustakaan PAI adalah perpustakaan yang berdiri sendiri atau perpustakaan PAI sebagai kumpulan sumber belajar mata pelajaran PAI yang menyatu dengan perpustakaan sekolah, musholla, masjid, dan laboratorium PAI.
  2. Pemenuhan koleksi minimum PAI di sekolah. Hal ini perlu untuk menjamin ketersediaan buku-buku dasar pendidikan agama, seperti : buku pelajaran agama, kitab suci, terjemahan kitab suci, pelajaran tajwid, serta buku-buku wawasan ketauhidan, akhlak, fiqhi, dan sejarah peradaban Islam. Penyediaan buku-buku kepustakaan pendidikan agama yang maksimal di sekolah, dapat memberikan manfaat besar kepada siswa sebagai kontra-referensi terhadap buku-buku bacaan yang tersebar tanpa sensor di masyarakat.
  3. Penyatuan perpustakaan / kepustakaan PAI dengan jaringan internet. Sekolah dan pemerintah perlu mengalokasikan sumber daya agar di area perpustakaan sekolah atau bahkan di sekolah dapat disediakan layanan free-hot-spot wifi. Hal ini untuk mempermudah siswa mencari materi pelajaran yang sesuai dengan dinamika permasalahan dan dinamika berfikirnya sendiri.

Hari Ketiga Kamis, 15 November 2012

Pukul 08.00 WIB Acara Penutupan oleh Bpk  Kabid 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: